Problematika Pernikahan Usia Muda

Problematika Pernikahan Usia Muda

Problematika Pernikahan Usia Muda– Hidup di lingkungan perkotaan dengan segudang kesibukkan sudah dianggap wajar bila memutuskan untuk menunda pernikahan dengan alasan mengejar karir, melanjutkan pendidikan, dan mengembangkan bisnis. Pada kenyataannya usia wanita 27-30 tahun sudah lumrah bagi wanita untuk memegang status menikah. Ternyata masih ada fakta yang mengejutkan bahwa perkotaan belum terlepas dari fenomena pernikhan mudah di usia anak di bawah 20 tahun yang biasanya terjadi di pedesaan. Menikah muda tidak dilakukan oleh masyarakat umum saja, melainkan beberapa selebritis, uztad atau uztadzah muda, selebgram mungkin pun melakukannya.

Kaum muda sudah sering mendengar fenomena menikah muda di lingkungan sekitar. Bicara tentang menikah muda, mungkin merupakan hal yang biasa bagi sebagian orang. Namun tidak dikalangan orang tertentu. Masyarakat masa kini cenderung menganggap nikah muda adalah hal yang tabu. Ketika di sekitar lingkungan ada yang menikah di usia muda, banyak dari mereka berpikir hal-hal yang mencurigakan dan prasangka buruk. Bagaimanapun menikah muda ada manfaat positifnya yang orang awam tidak ketahui.

Memang usia tidak mengatur kedewasaan setiap individu. Kedewasaan seseorang ditentukan dari pengalaman yang dialaminya. Misalnya, ada pasangan yang menikah di usia 20 tahun kebawah. Setelah menikah mereka memiliki anak. Apakah setelah memiliki anak mereka dapat bertanggung jawab dengan anak dan keluarganya? Apakah mereka bias mengontol emosi mereka? Bahkan untuk mengatasi segala masalah di keluarga, mereka meminta bantuan orang tua untuk menyelesaikan. Selain menimbulkan perceraian, KDRT hingga bunuh diri, menikah muda menimbulkan hal negative bagi negara yang seharusnya wanita produktif di usia muda malah justru berada di rumah menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak.

Problematika Pernikahan Usia Muda

Dari artikel yang penulis baca, melakukan nikah muda menimbulkan beberapa dampak negative bagi kesehatan. Salah satunya adalah kanker serviks (rahim). Ketika seorang wanita sedang mengandung di mana rahim belum begitu kuat. Maka sang ibu akan berpotensi terkena penyakit kanker serviks. Sementara sang bayi berkemungkinan tidak bias dilahirkan karena fisik sang ibu yang belum mampu. Hal tersebut tentu mengancam keselamatan ibu dan bayi yang dikandungnya. Dalam menikah muda, resiko terhadap kesehatan lebih cenderung ke pihak wanita.

Menikah muda dalam pespektif kesehatan justru memberikan dampak negative bagi pihak wanita. Di Indonesia terutama tidak membebaskan untuk melakukan nikah muda. Usia muda bias digunakan untu melakukan hal-hal yang produktif. Misalnya, menghasilkan lapangan kerja dan membuka bisnis. Tidak hanya itu, modal dalam pernikahan adalah mendewasakan diri agar dalam membina rumah tangga tidak mengandalkan nafsu, cinta, kasih, dan saying. Menerima kekurangan pasangan kerena jika menikah, kedepannya yang akan di temui adalah kekurangan dari pasangan bukan kelebihannya.

Rasulullah bersabda

“Wahai pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu maka hendaknya menikah. Karena ia lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan . dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa. Sebab ia dapat mengekangnya.” (HR. Bukhari)

Dalam hadis di atas, Rasulullah menggunakan istikah syabab dalam arti bahasa Indonesia adalah pemuda. Siapa yang di maksud syabab dalam hadis tersebut? Yaitu seseorang yang telah mencapai masa aqil baligh dan usianya belum mencapai tiga puluh tahun. Bagi kaum ikhwan, tanda yang muncul saat tibanya aqil baligh yaitu ditandai dengan bdatangnya mimpi basah. Akan tetapi, pada masa kini datangnya mimpi basah tidak sejalan dengan cukup matangnya pemikiran. Kaum ikhwan yang lahir demasa kini cenderung lebih matang di seksual tetapi belum memiliki kematangan dalam berpikir. Bila ikhwan sudah mampu melaksanakan kewajiban batin dan lahir, ikhwan dianjurkan untuk segera menikah. Secara fisik lahir batin telah sempurna, kematangan pemikiran dan seksual, dan bertanggung jawab disunnahkan untu menikah bmeskipun usianya 20 tahun atau lebih kurang.

”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar-Rum : 21)

Bagi kaum akhwat, memiliki syarat yang mudah. Sebab kaum akhwat tidak banyak beban yang harus ditanggung seperti kaum ikhwan yang harus mencari nafkah. Bila sudah aqil baligh dengan ditandai terjadinya menstruasi dan memiliki kematangan berpikir ia dianjurkan untuk menikah. Dalam sejarah Rasulullah, para sahabat pernah melakukan nikah muda. Salah satunya Rasulullah (14 Tahun) dan Aisyah (7 tahun) atau Fatimah Az-Zahra (19 Tahun) dan Ali bin Abi Thalib (25 Tahun). Tentu saja bagi kaum akhwat dan ikhwan ada hal penting yang harus di miliki yaitu bekal agama yang sekaligus mendewasakan diri dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Jika bekal agama sempurna, pernikahan yang dijalani tidak hanya menyatukan dua insan dan keluarga, tetapi mengejar ridho-Nya.

Dalam islam telah mengatur segala sisi kehidupan umatnya. Salah satu halnya adalah tentang pergaulan, yaitu membatasi pergaulan antara pria dan wanita. Islam juga menjelaskan salah satu dosa besar yaitu zina. Bahkan untuk mendekatinya saja sudah di larang. Pada zaman modern ini, pergaulan kaum muda sudah tidak ada batasnya. Antara kaum pria dan kaum wanita bisa berpegangan tangan, saling menunjukan aurat, dan bersentuhan dengan yang bukan mahram. Bahkan budaya pacaran mulai memasuki usia kanak-kanak. Kalian juga pernah melihat anak SD sudah berani menunjukkan bahwa mereka berpacaran. Memamerkan kemesraan dengan pasangannya di media sosial. Islam sama sekali tidak mengajarkan tentang pacaran. Karena pacaran adalah asal mula dari zina.

Kaum muda mungkin memiliki keinginan untuk melakukan pernikahan di usia yang masih muda. Rasa keinginan itu muncul setelah kaum muda melihat ikhwan-ikhwan di instagram yang berhasil menjalankan nikah muda. Kaum muda bisa melihat dari artikel ini beberapa manfaat yang kaum muda dapatkan bila melakukan nikah muda

1. Terhindar Dosa

Seperti yang penulis jelaskan, dosa besar salah satunya adalah zina. Pada masa kini budaya pacaran sudah menjadi kultur bangsa. Pacaran adalah dasar munculnya zina. Saat kamu melihat matanya akan menimbulkan nafsu, saat kamu memegang tangannya akan menimbulkan nafsu, saat kamu mendengar suaranya maka akan menimbulkan nafsu. Apalagi saat berdua-duan di tempat sepi, akan mendatangkan godaan setan yang menyerukanmu untuk berzina. Terutama untuk kaum wanita. Jika pasangan mau bertanggung jawab tidak masalah, bagaimana kalau dia meninggalkanmu begitu saja? Mengandung anak tanpa ada ikatan pernikahan tentu membuat keluargamu malu. Jalan pintasnya adalah mengugurkan kandungan. Setelah melakukan zina lalu menggugurkan kandungan. Bisa kamu ketahui berapa dosa yang kamu perbuat? Dengan menikah muda kamu akan terhindar dari dosa. Tak akan merasa berdosa memegang tangan lelaki yang sudah halal.

2. Lebih Bahagia dan Puas dalam Berhubungan

Ada penelitian yang menjelaskan bahwa orang-orang yang menikah antara usia 20 tahun-28 tahun akan merasakan kebahagian. Karena pada usia tersebut seseorang belum memiliki terlalu ego dan ambisi. Bahkan ketika suami yang belum dapat menghidupi secara ekonomi akan tetap hidup bahagia dan menikmati kehidupan tersebut. Begitu juga dalam berhubungan, kaum muda  memiliki stamina yang masih prima. Hal itu membuat mereka dalam berhubungan mendapat kepuasan satu sama lain. Tentunya akan terjauh dari dosa-dosa.

Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda dalam memaknai menikah muda. Seperti dalam kesehatan menikah muda justru menimbulkan dampak negative, dalam islam justru banyak menujukkan manfaat bagi mereka yang menikah muda dan mau menikah muda. Adakalanya kita harus memiliki pikiran yang matang baik lahir maupun batin agar tidak ada kegagalan dalam menjalani rumah tangga. Selalu menjaga pola hidup yang sehat agar tidak terserang penyakit. Penulis sudahi dulu, semoga apa yang penulis paparkan dapat menjadi manfaat untuk kaum muda yang masih ragu untuk melakukan nikah muda.

Tinggalkan komentar