Ploblematika Pendidikan Moral Dan Akhlak Anak Masa Kini

Pendidikan merupakan suatu kebutuhan penting dalam kehidupan manusia. Setiap orang membutuhkan pendidikan kapan pun dan di mana pun. Tanpa adanya pendidikan manusia tidak dapat berkembang maju sehingga tidak dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, berkarakter dan memiliki moral yang baik. Suatu bangsa akan menjadi besar apabila generasi tersebut memiliki moral dan akhlak yang baik. Hal tersebut di dapat melalui proses pendidikan.

Peran pendidikan adalah untuk mendidik manusia yang bisa memberikan manfaat kepada manusia lainnya. Manusia yang layak disebut bermanfaat bagi manusia lainnya yaitu manusia yang berkualitas, berintelektual, kepribadian yang baik, moral yang baik dan kejujuran yang tertanam dalam dirinya. Tentunya, untuk mencapai itu semua adalah dengan memperoleh pendidikan baik formal maupun informal.

Ploblematika Pendidikan Moral Dan Akhlak Anak Masa Kini

Dalam kehidupan bermasyarakat, moral memiliki peranan yang penting. Memiliki moral yang baik tentu akan menjadikan kehidupan yag berkualitas. Walaupun memiliki harta yang melimpah namun tidak dibekali dengan moral akan sia-sia. Bila kmemiliki moral, orang lain senantiasa menghargai dan menghormati. Pada kenyataannya, Indonesia saat ini sedang darurat moral dan akhlak.

Mengapa seperti itu? Banyak ditemui pelajar-pelajar yang melakukan tindakkan yang jauh dari norma-norma, baik norma agama, hukum, asusila, maupun kesopanan. Hal tersebut terbukti dengan adanya pemberitaan penyimpangan yang muncul di kalangan masyarakat seperti tawuran antar pelajar, pelecehan seksual, kekerasan, criminal dan masih banyak lagi. Mudahnya budaya luar yang negative masuk ke pola pikir anak sering menjadi penyebab utama rusaknya moral.

Gaya hidup modern yang tidak didasari moral begitu cepat di tiru oleh anak sehingga mudah mengubah pola pikirnya. Fenomana yang lebih mengiris dunia pendidikan saat ini adalah maraknya kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh anak di bawah umur. Korban dan pelakunya tidak lain tidak bukan adalah anak-anak. Tindakan menodong, begal, mencuri, tawuran pelakunya juga pelajar sekolah.

Kurangnya perhatian dan pengawasan dari orang tua merupakan factor yang mengalami terjadinya penyimpangan moral generasi penerus yang berakibat anak tumbuh dilingkungan yang tidak memiliki moral. Kemudian, pergaulan bebas yang disebabkan tidak bisanya anak memilih teman sehingga mempengaruhi anak terjun ke dunia pergaulan bebas. Hal tersebut tentu tidak boleh dibiarkan begitu saja.

Akan menjadi anak seperti apa kelak dewasa nanti? Jika tidak menemukan jalan keluarnya pasti akan terbentuk generasi yang tidak bermoral dan berakhlak dan bagaimana pemimpin masa depan kalau generasi sekarang rusak? Penulis akan menjelaskan beberapa tindakan negative yang merusak moral anak masa kini.

1. Tawuran

Tawuran sudah menjadi budaya dikalangan pelajar masa kini. Tawuran antar pelajar tidak hanya terjadi di kota-kota besar, melainkan merambah ke pelosok desa. Terjadinya tawuran bermula pada dendam antara satu sekolah dengan sekolah lain atau masalah satu siswa dengan siswa sekolah lain sehingga siswa lain ikut membela dan ujungnya terjadi tawuran.

2. Pergaulan bebas

Pacaran sudah menjadi gaya hidup bagi beberapa pelajar masa kini. Tidak hanya remaja di bangku SMP atau SMA yang ikut serta dalam gaya hidup tersebut, melainkan anak SD sudah mulai mananjakinya. Sudah menjadi pemandangan tak asing netizen di media sosial melihat postingan anak yang masih dibilang seumur jagung sudah berani berpelukkan mesra dengan lawan jenisnya.

Memamerkan kemesraan layaknya sepasang suami istri. Walaupun mereka mengatakan tidak ngapain-ngapain, tapi budaya pacaran masa kini tidak bisa ditolerir. Pernah tersiar berita anak SD menghamili temannya. Tentu orang dewasa yang mendengarkan merasa miris bukan

Upaya pemerintah dalam mengatasi kemerosotan moral telah dibuktikan dalam Sistem Pendidikan Nasional UU No 2 /89 pada Bab II Pasal 4 yaitu “Untuk mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan bebrbudi perkerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.

Namun, dalam upaya mengatasi kemerosotan moral dan akhlak hanya sebatas membuat peraturan saja, belum sampai pada upaya yang optimal dalam menanggulangi rusaknya moral anak. Kondisi ekonomi yang sedang terperosok menimbulkan beberapa krisis di segala bidang, salah satunya bidang pendidikan. Majunya teknologi masa kini menjadi momok yang menakutkan dalam merusak moral anak.

Dari yang penulis sebutkan di atas merupakan kelemahan pemerintah dalam menanggulangi masalah kemerosotan moral anak masa kini.
Berharap pada pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut tentu tidak akan terealistiskan bukan? Banyak orangtua sekarang mulai menyikapi masalah tersebut. Orang tua sudah mulai berlomba-lomba menenamkan nilai moral kepada anaknya melakui pendidikan agama sejak usia dini.

Terbukti di lingkungan penulis, orangtua berbondong-bondong mendaftarkan anaknya ke Raudhatul Athfal atau Madrasah Ibthidaiyah yang merupakan sekolah berlandaskan pada agama. Sekolah ini memfokuskan anak untuk memiliki sikap spiritual yang baik. Menanamkan pendidikan moral pada anak sejak dini tentu memiliki dempak positif yang akan secara otomatis tertanam pada diri anak dan anak akan terbiasa berkembang menuju masa kedewasaan.

Islam sangat memerhatikan masalah pendidikan terhadap anak dan memberikan konsep secara konkret dalam Al-qur’an yang merupakan petunjuk bagi umat islam dan diperkuat dengan hadist Rasulullah. Dalam mendidik moral, tentu sikap dasar yang harus di lakukan adalah menahan amarah, sabar dan memaafkan kesalahan orang lain. sebagaimana di firmankan Allah SWT dalam surah Ali-Imran ayat 134

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Dari terjemahan ayat di atas, dapat di jelaskan tujuan pendidikan bermoral adalah membentuk pendidikan yang berakhlak mulia karena akhlak yang mulia tentu mendatangkan kebaikan. Harapannya adalah anak yang memiliki akhalak yang mulia akan segera melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan
Allah SWT juga berfirman dalam surat Al-a’raf ayat 172 yang artinya

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): bukankah Aku ini Tuhanmu, mereka menjawab: Betul (Engkau tuhan KAmi), kami menjadi saksi, (Kami lakukan demikian itu) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami bani Adam telah lalai terhadap hal yang demikian ini”.

Al Maraghi dalam Tafsirnya menegaskan bahwa Allah SWT telah menjadikan dalam tiap diri pribadi umat manusia berupa fitrah keislaman yang disebut gharizah imaniy (naluri keimanan), dan melekat didalam hati sanubari mereka, sehingga potensi beriman kepada Allah telah terlebih dahulu tertanam dalam diri manusia dan baik buruknya pribadi manusia tersebut tergantung upaya untuk mengembangkan potensi ketuhanan itu.

Jika pendidikan akhalak jauh dari akidah Islam, lepas dari ajaran religius dan tidak berhubungan dengan Allah, maka tidak diragukan lagi bahwa anak akan memiliki sifat kefasikan, penyimpangan, kesesatan, dan kekafiran. Bahkan ia akan mengikuti nafsu dan bisikan-bisikan setan, sesuai dengan tabiat, fisik, keinginan dan tuntutannya yang rendah.

Oleh sebab itu, pendidikan diharapkan dapat meningkatkan kualitas pada generasi penerus dan mengurangi masalah-masalah budaya luar yang negative serta moral anak yang sudah menipis. Tidak hanya itu, peran keluarga dalam menanggulangi masalah tersebut.

Tinggalkan komentar