Novel inspiratif “Guru Impian”

Brownis Cokelat

Pagi ini langit bengitu cerah setelah hujan mengguyur sejak malam tadi. Matahari menyala terang. Cahayanya menembus tirai jendela. Kicau burung terdengar syahdu di depan kamar Fani. Fani masih bersembunyi dibalik selimut. Alarm berdering dari ponselnya tidak ambuh membangunkannya. Memang weekend adalah waktu istirahat bagi Fani. Hari-harinya dipenuhi jadwal yang padat mengikuti kegiatan sosial di kampus. Walaupun sebentar lagi gelar sarjananya akan disahkan, Fani masih sering ke kampus untuk membantu para juniornya. semakin keras suara dering alarm, semakin kuat gaya gravitasi di atas kasurnya
Suara panggilan berdering dari ponsel. Fani seketika beranjak dan meraih ponselnya. Akhirnya Fani bangkit dari kasurnya dengan rambut yang masih acak-acakkan.

“Halo…” suara Fani terdengar sengau.
“Fan, di mana?” suara perempuan terdengar dari ujung telpon.
“Di kamar. Ada apa?” Fani beranjak dari kasurnya menuju meja rias di samping kasur.
“Aku mau minta tolong.”
Fani mencari-cari sisir di dalam laci meja “Tolong apa?”
“Aku datang aja ke rumahmu, ya…”
Fani menemukan sisir yang dicarinya. “Yaudah. Aku tunggu.” Fani menguap dan telpon tertutup. Di depan meja rias Fani duduk menatap wajahnya yang putih. Sebelum mulai merapikan rambutnya dengan sisir, Fani melakukan kegiatan menatap dirinya di depan cermin selama lima menit. Hal itu rutin dilakukannya. Entah apa maksud dan tujuannya.

Tangannya mulai menyisir rambut lurus sebahu. Setelahnya, Fani mengambil handuk yang menggantung di gantungan dekat pintu kamar. Meninggalkan kamar dan menuju kamar mandi adalah kegiatan awal yang Fani lakukan di weekend ini. Suara gemericik air terdengar. Sesekali Fani bersenandung lagu-lagu pop. Suaranya memang tak sebegitu merdu, akan tetapi Fani percaya diri dengan suaranya.
Keluar dari kamar mandi dengan rambut ditutupi gulungan handuk. Langkah Fani selanjutnya menuju dapur. Aroma yang sejak tadi menganggunya membuat perutnya keroncongan. Ada beberapa notes tertempel di depan pintu lemari es. Fani membaca satu persatu notes yang menempel.

Fani, Mamah hari ini mau ke rumah Tante Rahmi. Sarapan dan makan siang udah mama siapin di kulkas. Sebelum makan, panasi dulu ya…
Setelah membaca notes di depan lemari es, Fani mencari asal aroma tersebut. Aroma yang sejak tadi menganggu indera penciumannya bukan berasal dari dapurnya. Melainkan dapur tetangga. Fani mengintip dari jendela dapur. Jarak antara rumah Fani dengan tetangganya itu hanya 4 depa. Apa sudah ada penghuni baru? Begitu fikir Fani. Perutnya terasa keroncongan. Fani kembali berdiri di depan pintu kulkas. Ketika membuka pintu kulkas, Fani menemukan soto. Soto adalah makanan kesukaannya. Segera Fani memasukkan soto ke dalam microwave. Sambil menunggu soto, Fani mengambil kopi di lemari penyimpanan. Menyiduk dua sendok makan kopi lalu menambahkan tiga sendok teh gula. Kemudian Fani menyeduhnya dengan air panas dari dispenser.
Sotonya sudah siap. Fani duduk sendiri di meja makan dengan mangkok kaca berisi soto di sebelah kakan dan sepiring nasi di depannya. Belum lagi sempat memasukkan nasi ke dalam mulut, suara bel terdengar dari luar rumah. Fani menggerutu kesal.

Tepat di depan pintu seorang lelaki jangkung berdiri. Mata lelaki dan Fani saling bertemu. Angin menghempaskan rambutnya yang lurus. Wajahnya tampak bersinar seperti terkena senter. Fani terus menatap wajah lelaki itu dengan kagum.

“…Ehem…” Lelaki itu berdehem mengagetkan Fani
“Eh! Iya…” Fani salah tingkah “Ada apa?”
Tangannya menyerahkan rantang kecil “Tanda perkenalan sebagai tetangga baru.” Fani masih tidak fokus dengan ucapan si lelaki berkulit sawo matang. Pandanganya tak pernah lepas menatap wajah lelaki itu.
“Eh? Iya.. iya” tangan Fani mengambil rantang dari tangan lelaki itu.
Lelaki itu mengulurkan tangannya “Aku Hanif”
Fani menyambar tangan lelaki itu “Aku Fani…”

***

Di ruang TV Fani menikmati weekend yang sulit di dapat untuk berdiam diri di rumah. Pikirannya masih terbayang kejadian tadi pagi sambil tersenyum kegirangan. Sesekali Fani mengelus tangan kanan yang telah menyetuh tangan lelaki yang memiliki nama Hanif. Fani teringat dengan rantang kecil yang Hanif berikan. Rantang itu masih berdiri di meja makan dan belum disentuh siapapun. Fani mengambil rantang dan membawanya ke ruang TV. Perlahan di bukanya. Rasa penasaran muncul ingin melihat apa isi rantang tersebut. BROWNIS COKELAT! Fani berteriak histeris. Cokelat adalah cemilan kesukaannya. Satu brownis berada di tangan untuk di cicipi. Belum lagi memakan secuil brownis, suara bel mengagetkan Fani. Fani tersenyum kegirangan berlari menghampiri pintu.
Wajah cerianya berubah melihat seseorang yang berdiri di depan pintu tak seperti yang diharapkan. Tamu yang berdiri di depan pintu melambaikan tangan sambil tersenyum menunjukan giginya yang rapi dan putih.

“Annyeong!” sapa Sera
Wajah Fani seketika berubah. Yang awalnya ceria jadi cemberut kesal
“Kayaknya tadi kau seneng ngeliat aku datang? Sekarang kok jadi cemberut?”
“Mau masuk gak?” Fani kesal.
Tanpa menjawab Sera langsung masuk. Melihat TV yang menyala, Sera mengambil posisi di depan brownis milik Fani. Melihat brownis tersebut, Sera langsung melahap dengan cepat.
“Enak banget!!!” Sera mengambil satu lagi di dalam rantang kecil.
Melihat kelakuan Sera, Fani lari dan berteriak “Jangaaaaaaaaan!” dengan cepat, tangan Fani merampas brownis yang tersisa. Di dalam rantang hanya ada satu brownis lagi.
“Browniskuuuuu…” Fani merengek
“Cuma brownis doing elaah. Segitunya…” Sera menjilati jari-jarinya yang berlumur cokelat.
Fani melirik Sera sinis “Dasar cewek rakus!”
“Beneran enak loh, Fan. Beli di mana?”
“Rahasia…” Fani meninggalkan Sera ke dapur. Menyimpan sisa brownis ke dalam kulkas lalu kembali menemui Sera. “Mau minta tolong apa?”
“Gini Fan, aku juga gak nyangka kalo bisa menang undian. Aku dapet voucher liburan ke korea. Kau tau bangetkan aku pengen banget kesana…”
Sera belum menyelesaikan kalimatnya, Fani mematahkan kalimatnya “Intinya?”
“Gantiin aku ngajar. Kan kau tinggal nunggu wisuda ajakan?”
“Jadi guru gitu? Yang bener aja, Ser!” Fani sontak berdiri “Kau kan tau aku gak punya bakat mengajar?”
“Ya gak papa, gak jauh beda kok sama presentasi makalah. Cuma bedanya yang ngeliatin anak SMA.” Sera menarik tangan kanan Fani. “Please, bantu aku.”
“Oke! Setalah kembali dari Korea, aku gak mau tau pokoknya kau langsung kabarin aku. Aku ngelakuin ini karna kau masih ku anggap sahabat. Kalo bukan karna itu, ogah aku!”
“Aaaaaa… makasih ya, Fan” Sera langsung memeluk Fani kegirangan.
Fani teringat brownisnya yang dimakan Sera tadi “Tapi ganti brownisku dulu!”
Sera mengangguk “Seneng banget akhirnya bisa ke Korea…”
“Kalo bisa, bawakan Kyung Soo buatku yaaa…” goda Fani. Fani sangat tau kalau sahabatnya ini mengidolakan Kyung Soo a.k.a D.O EXO.
“Arasseo, asal kau mau gantiin aku ngajar.”
“Tumben ngerelain dia buatku?”
Sera tersenyum

Malam begitu kelam. Bulan bersinar menemani bintang. Malam ini tidak turun hujan seperti kemarin. Ada bintang yang kembali menemani bulan. Fani berdiri di balkon kamarnya. Menatap langit sambil memegang cokelat hangat di tangannya. Angin menghempaskan rambut Fani yang tergerai. Pandangan matanya beralih ke rumah Hanif. Balkon kamar milik Fani saling berhadapan dengan kamar Hanif. Terlihat bayangan Hanif dari balik tirai jendelanya.

“Ya ampun, ngeliat bayangannya aja aku udah seneng.” Fani bergumam “Selamat malam, Hanif. Semoga mimpi indah…” tangan Fani melambai ke arah kamar Hanif. Fani meninggalkan balkon lalu menutup jendela untuk segera tidur.

Baca novel selanjutnya  Novel Inspiratif ” Guru Impian” part2

About the Author: khavidin