Novel inspiratif ” GURU IMPIAN” part:3

REASON

Novel inspiratif- Dalam sekejap, koridor sekolah berubah menjadi kosong. Semua mata tertuju pada mading. Semua siswa berlarian untuk melihat brosur yang baru ditempel oleh seorang staf pegawai sekolah. Siswa saling dorong-mendorong untuk berebut tempat agar mudah melihat brosur yang ditempel tersebut. Hana yang sedang berkeliling penasaran atas apa yang terjadi. Langkahnya menuju ke mading dan bergabung dengan kerumunan siswa. Siswa sama sekali tak memerhatikan keberadaan Hana yang berada di belakang kerumunan. Saling dorong mendorong membuat Hana terdorong hingga terjatuh. Lututnya berdarah.

“Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kakimu?” Hanif menghampiri Hana dengan ekspresi cemas.
“Aku… penasaran sama brosur di mading.” Tanganku terus memegang kakiku yang terluka.
“Ayo kita ke UKS!” Hanif meraih tangan Hana dan merangkul Hana.
UKS dalam keadaan sepi. Hanif mengantarku ke tempat duduk lalu meninggalkan Hana untuk mengambil segelas air dan memberikan kepada Hana. Hana merasa jantungnya hampir mau pecah. Getaran yang dihasilkan dari sentuhan Hanif membuatnya lemah. Apa ini? Kenapa aku deg-degan begini? Hanif mencari sebuah kotak P3K dalam lemari. Segera Hanif kembali ke bangku tempat Hana duduk.
“Makasih…” Hana melihat Hanif yang berada di lututnya. Hanif sedang mengoleskan obat luka di lutut Hana.
“Sekali lagi harus hati-hati, ya…”
Hana mengangguk “…Uhmm, kira-kira di mading tadi ada brosur apa ya?”
“Hari ulang tahun sekolah.” Hanif menutup luka Hana dengan Handsaplash. “Selesai…”
“Makasih…”
“Santai aja. Oh iya, nanti ada rapat. Kamu datang ke ruang guru. Kamu istirahat di sini dulu yaa.”

***

Hana duduk di atas kasurnya. Menatap keluar jendela. Pikirannya masih terngiang kejadian saat di UKS. Hana memegang dadanya. Dia merasakan jantungnya berdetak perlahan. Beda saat berhadapan dengan Hanif. Hana mencoba memastikan lagi. Kesimpulannya, jantung Hana berdetak tak beraturan saat di dekat Hanif dan berdetak normal saat tidak dekat Hanif. Hana melihat luka di lututnya yang diobati Hanif saat di UKS. Hana membayangkan Hanif sambil tersenyum. Ketukkan pintu menghempaskan lamunan Hana.

“Hanaa…” wajah Mama muncul di balik pintu mengagetkan Hana.
Hana terperanjat “Astaga, Ma. Hana kaget loh. Untung ga copot nih jantung.”
“Kenapa gak makan malam?” Mama meghampiri Hana lalu duduk di atas kasur sebelah Hana.
“Kenyang, Ma…”
Mata Mama tertuju pada lutut Hana yang terluka. “Lutut kamu kenapa?!” Mama memasang ekspresi kaget.
“Jatuh, Ma di sekolah. Gak parah kok…”
“Hati-hatilah dong, Sayang.”
Suasana seketika hening
“…Ma, gimana sih kesan cinta pertama Mama?”
“Yang pasti cinta pertama Mama bukan Papa. Waktu itu, Mama suka sama guru olahraga saat SMA. Mama ngerasa guru itu sempurna dan ganteng. Tapi, Mama sampai sekarang gak pernah ngutarain perasaan Mama ke Pak Guru itu. Mungkin sekarang dia udah punya cucu.”
Apa memang sudah takdir kalau kisah asmara Mama dan aku sama-sama memiliki cinta pertama pada guru olahraga?
“Hana suka sama seseorang, Ma…”
“Wajar, kamu juga manusia dan kamu wanita.”
“Sama guru olahraga…”

***

Hari ini adalah hari perayaan ulang tahun sekolah. Tak ada kegiatan belajar mengajar di kelas. Semua siswa berkumpul di lapangan. Guru-guru ikut berpartisipasi merayakan hari ulang tahun sekolah. Hana berdiri di barisan XII IPS 2 bersebelahan dengan kelas milik Hanif. Sesekali pandangan Hana melirik ke arah barisan kelas Hanif. Tapi, Hana tidak melihat keberadaan Hanif. Tentu Hana penasaran di mana keberadaan Hanif. Hana memberanikan diri menanyakan Hanif kepada siswanya.

“Pak Hanif gak datang?” Hana berbisik pada siswa paling belakang.
“Datang, Bu. kayaknya telat.” Jawab siswa tersebut.
“…Uhmm.”
“Ibu pacarnya, Pak Hanif?”
Hana terkaget “HA?! Bukaaaan…” Hana tertawa.

Acara sudah di mulai. Kepala sekolah berdiri di podium dengan suara mengelegar ke seluruh sekolah. Siswa sudah kelihatan gelisah karena matahari yang menyengat tubuh. Mereka merasa gerah dan terus mengipasi badan dengan tangan mereka. Hana sangat bersyukur bisa berdiri di teras kantor dan tidak kena teriknya matahari yang menyengat.Saat pembawa acara menyebut nama “Hanif Darussalam. S,Pd” Hana yang tadinya tidak bersemangat menjadi bugar dan bersemangat melihat lelaki yang memakai baju batik dengan celana hitam panjang berjalan menuju podium. Tak hanya Hana, semua guru khususnya guru berjenis kelamin wanita dan belum menikah memerhatikan Hanif. Hanif sangat bersemangat menyampaikan kata sambutan sebagai ketua panita acara HUT sekolah.

“Semoga, Acara hari ini berjalan lancar dan tidak ada hambatan sedikitpun…”
Acara pembukaan di lapangan sekolah telah selesai. Selanjutnya adalah melanjutkan acara selenjutnya yaitu, lomba antar kelas. Hana tidak berniat menonton di lapangan. Mengasingkan diri di kantin sambil menikmati jus saat hari panas begini akan menyegarkan badan. Si sudut kantin Hana duduk dengan beberapa makanan cemilan dan segelas jus alpukat. Tangannya meraih hape dari dalam tas. Membuka akun instagramnya dan men¬-scroll beranda instagram yang dipenuhi foto-foto. Postingan dari akun @__meserasera membuatnya tersenyum. Sera yang sedang berlibur ke Korea tampak begitu ceria dan bahagia. Terlihat dari postingan foto di instagram yang berada di Nami Island.

“Seneng banget kayaknya si Sera…” Hana meninggalkan tanda Love di postingan Sera sambil tersenyum.
“Wah..wah..wah ada yang seru banget kayaknya, kok seru banget gitu?”
“Eh, Hanif. Iya, ini lagi lihat foto Sera lagi di Korea.”
“Coba lihat?”
Hana memberikan hapenya.
Hanif mengembalikan Hape kepada Hana “Udah lama temenan sama Sera?”
“Sejak SMA. Dia sahabat aku.”
“Kamu temen kuliahnya juga?”
“Iya, Cuma beda jurusan aja. Aku jurusan Ilmu Sejarah dan Sera jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial.”
Hanif mengangguk. “Gak niat jadi guru tetap di sini?”
“Coba kasih aku alasan apa bisa yakinin aku supaya jadi guru.” Hana membuat Hanif terdiam sejenak.
“…Uhm, setiap orang punya pandangan sendiri termasuk aku. Ada hal yang tidak bisa kamu dapat kecuali menjadi guru. Mau tau?”
Hana mengangguk

“Dihargai! Semua orang pasti ingin di hargai. Saat menjadi guru kamu akan mendapatkan itu. Gak percaya? Lihat siswa yang di sana.” Hanif menunjuk siswa yang sedang duduk di ujung mereka. Selisih dari dua bangku.
Hana melihat siswa yang ditunjuk Hanif.

“Kamu tau kenapa mereka duduk di sana? Ada dua alasan. Karena segan sama kita yang di sini dank arena segan sama kita yang di sini.”
“Bukannya sama saja dua alasannya?”
“Iya. Sengeja hehe…” Hanif tertawa kecil. “Han, kalo kamu jadi guru. Kamu akan dihargai orang karena ilmumu.

Walaupun gajinya tidak seberapa. Tapi saat profesi kita dihargai orang lain pasti bakal nyaman kan?”
Hana berpikir sejenak. Pandangannya menerawang apa yang dijelaskan Hanif. Hana merasa apa yang dikatakan Hanif itu benar. Tidak semua orang mampu menjalani profesi guru begini karena gaji yang Cuma sedikit. Tetapi ada beberapa orang yang rela memilih profesi guru demi mensejahterakan bangsa. Terkadang Hana berpikir apa sih enaknya jadi guru? Kenapa sih Sera mau jadi guru? Dan kenapa Hanif begitu menekuni profesi guru? Hana sudah menemukan jawaban dari pandangan Hanif. Jawaban itu sudah mengubah pola pikirnya.

About the Author: khavidin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *