Novel Inspiratif ” Guru Impian” part2

GURU OLAHRAGA

Di depan lemari, Hana kebingungan memilih baju yang pantas dipakai untuk mengajar. Mengambil beberapa kemeja lalu mencocokan dengan rok sejak tadi tergeletak di atas kasurnya. Berkali-kali Hana mencocokkan, namun tak ada satupun sesuai dengan yang di harapkannya. Hari ini adalah hari pertama dalam hidupnya menjadi seorang guru. Sejenak Hana terdiam memikirkan apa yang harus dilakukan sebelum jarum jam menunjukkan ke angka delapan. Setelah dua menit berpikir, Hana mengambil ponselnya lalu membuka icon google. Mengetik kata di kolom pencarian.

Matanya fokus menatap layar. Jarinya sibuk menscroll dan aha! Akhirnya Hana menemukan style mengajar untuk hari ini.
Hana keluar kamar dengan senyum dan tas mungil mengantung di pergelangan tangannya. Rambutnya di kucir kuda dengan make up tipis. Menghampiri meja makan dan duduk di sebelah Papa yang sedari tadi memandanginya pangling.

“Cantik bener anak Papa. Mau ke mana pagi-pagi gini?” Tanya Papa langsung melipat Koran dan meletakkannya di samping kopi miliknya. Tangannya meraih kopi lalu sedikit menyeruputnya.“Baru tau kalo Hana cantik? Papa sih, kebanyakan di kantor…” Hana mengambil dua lembar roti lalu meraih selai yang tak jauh dari pandangannya. Mengoles sedikit selai diatas roti dengan perlahan.
Mama mengantarkan segelas susu ke tempat Hana duduk. “Mau gantiin Sera. Si Sera mau ke Korea katanya…”
“Bagus dong! Papa seneng di keluarga kita ada yang berkontribusi di dunia pendidikan.”
“Hana gak punya basic mengajar, Pa. Sekarang nih, Hana bingung mau ngapain di depan kelas.” Hana meneguk sedikit susu.
“Kamu pernah kan jadi murid? Nah, waktu itu guru kamu ngapain di depan kelas?”
“Absen, nanyain materi sebelumnya…”
“Itu! Kamu harus gitu dulu…”
Bener juga kata si Papa begitu pikir Hana.
“Gitu ya?”
Papa tersenyum “Mau Papa anter gak?”
“Engga deh, aku naik motor aja…”
“Yaudah, Papa berangkat duluan yaa.” Papa beranjak dari kursi meja makan. Mengambil tas dan kunci mobil di atas sofa. “Ma, Papa berangkat yaa…” Papa berlalu. Mama menjawab dengan suara yang lembut namun terdengar ke seluruh ruangan.
“Ma, tau gak siapa yang pindah ke rumah sebelah?” Mulut Hana di penuhi dengan roti.
“Habisin dulu makanannya!” bentak Mama.
Hana mengunyah dengan cepat makanan yang ada dalam mulutnya. “Siapa, Ma?”
“Entah, Mama juga gak tau. Emang kenapa?”
“Gak papa.” Hana menyengir. “ Hana berangkat ya, Ma. Daaaa!”

***

Rasanya, Hana seperti kembali ke masa sekolahnya dulu. Sebelum masuk kelas, duduk-duduk di kantin atau mengosip di koridor sambil melihat kakak kelas yang ganteng. Satu hal yang tak pernah dilupakannya. Pak guru olahraga kegemaran seluruh siswi sekolah. Namanya Pak Leo, dia adalah guru olahraga di SMA Tunas Bangsa. Semua siswi perempuan menyukainya karena ketampanan , ramah, dan senyum manis yang menghiasi bibirnya. Terkadang, Hana dan teman-temannya berdiri dikoridor untuk menyapa Pak Leo sebelum masuk ke ruang guru. Kebetulan ruang kelas Hana letaknya sebelum ruang guru. Dengar-dengar kabar, Pak Leo sudah menikah dengan Miss Feronika yang tidak lain dan tidak bukan adalah guru bahasa inggris di sekolah SMA Tunas Bangsa. Gosip hubungan mereka sudah tersiar sejak lama, hanya saja banyak yang tidak percaya dan menganggapnya berita hoax. Pada akhirnya semua terbukti saat undangan merah jambu menempel di mading sekolah. Sontak membuat para penggemar Pak Leo mengalami patah hati nasional.

Langkah Hana terhenti di sebuah ruangan yang bertulis “Ruang Guru”. Semua mata memandanginya hingga membuat Hana merasa canggung. Hana melanjutkan langkahnya dan menuju meja Buk Rasti. Hana memberi tau apa tujuan dirinya datang ke sekolah. Sebenarnya Buk Rasti sudah mengetahui kedatangan Hana karena Sera sudah memberitahu lebih dulu bahwa akan ada pengganti selagi dia sedang ke luar negeri.
Langkah selanjutnya adalah menuju kelas XI-IPS 3. Jantung Hana sudah deg-degan. Pikirannya terus memikirkan perbincangan tadi pagi dengan Papa. Mulutnya komat-kamit merapal kata-kata yang akan di sampaikan saat di depan kelas. Hana tidak ingin malu-maluin di hari pertamanya mengajar. Semua siswa memandanginya saat masuk ke dalam kelas. Meletakkan tasnya di atas meja lalu berdiri di samping meja miliknya. Dengan baju kemeja putih dan rok peplum yang menghiasi tubunya menampilkan kesan feminim dan anggun.

“Selamat pagi…” Sapa Hana dengan senyum tipis menyunging.
“Pagi, Bu…” teriak siswa mengelegar. Mereka tampak berbisik menanyakan siapa guru yang ada di depan mereka saat ini.
“Baiklah, mungkin kalian bertanya siapa saya dan mengapa saya ada di sini. Nama saya Hana. Saya temannya Bu Sera. Berhubung Bu Sera sedang ada kesibukan, untuk sementara saya akan mengantikannya. Sebelum kita belajar, ada yang mau bertanya?”
Seorang siswa mengangkat tangan
“Iya, Kamu yang di belakang? Mau bertanya apa?”
“…Uhmm nomor hape , Ibu berapa?”
Semua siswa menyorakinya
“Untuk saat ini, saya masih punya satu nomor hape.” Hana tersenyum dan beberapa siswa tertawa kecil. “Mulai sekarang, kalian bisa memanggil saya dengan panggilan Bu Hana. “ Hana mengetuk meja sebanyak tiga kali sebagai pertanda peresmian nama “Bu” bertambah di depan namanya. Semua siswa tepuk tangan. Hana sangat senang. “Sebelumnya, dengan Bu Sera sudah sampai mana? Jari-jari Hana membolak-balikan buku dengan perlahan.
“Halaman 54, Bu. Masih membahas soal latihan…” Jawab salah satu siswa yang duduk paling depan. Kacamatanya sangat tebal. Tak tau berapa minusnya.

Hana mengangguk kecil “VOC atau disingkat sebagai Veerenigde Oostindische Compagine di dirikan pada 20 Maret 1602…” Semua siswa tampak khusyuk mendengarkan penjelasan dari Hana. Sesekali ada siswa yang bertanya tentang materi yang sedang di pelajari. Masalah sejarah memang sangat dikuasai Hana karena Hana adalah mahasiswa Ilmu Sejarah. Setidaknya karena hal tersebut bisa menyelamatkan Hana.

Bel berakhirnya mata pelajaran sejarah berdering. Hana menyudahi pembelajaran dengan memberikan tugas kepada siswa. Langkah kaki hana melangkah keluar dengan menghela nafas lega. Kerongkongannya terasa kering karena efek terlalu banyak menjelaskan materi. Tempat selanjutnya yang akan dituju adalah kantin. Menyegarkan kerongkongan dengan sebotol fruit tea adalah keinginan yang ada dibenak Hana saat ini.

Membuka lemari pendingin yang berisi beraneka ragam jenis minuman tak sekalipun membuatnya tergoda. Tetap satu pilihan Hana yaitu Fruit Tea rasa apel. Mengambil sebotol lalu duduk di bangku kantin kemudia berdiam diri memandangi sekitar sekolah. Saat sedang melamunkan kejadian tadi malam yang membuatnya terbayang-bayang, seseorang dari jarak jauh membuat Hana kaget. Hana berusaha memastikan penglihatannya tidak salah. Makin lama dia semakin mendekat ke arah Hana.

“Kamu…?” Lelaki jangkung dengan setelan kemeja biru langit dan celana hitam berdiri tepat di depan Hana.
“Eh! Ha..nif?” Hana mencoba mengingat namanya. Benar ternyata, lelaki itu adalah orang yang sedang Hana pikirkan.
Sedang apa dia di sini? Hana bertanya-tanya dalam hati.
“Ngajar di sini juga?” Hanif duduk bangku yang berhadapan dengan Hana.
“Uhm, engga. Gantiin temen aja.”
“Siapa?”
“Sera. Sera Andita…”
“Oh, guru sejarah ya?”
Hana mengangguk. Meneguk sedikit fruit tea lalu berdiam diri “Kamu, ngapain di sini?”
“Ngajar. Aku guru olahraga…”
Mengapa hidupku selalu berhubungan dengan Guru olahraga Rutuk Hana dalam hati.
“Biasanya, yang aku tau guru olahraga selalu pakai pakaian sport gitu ya?”
“Hari ini aku gak ada kelas. Jadi pakaiannya begini…” Hanif tersenyum menunjukkan deretan gigi putih yang tersusun rapi.
“Loh? Biasanya si Sera kalo gak ada kelas gak ke sekolah. Kok kamu…?”
“Aku menjabat sebagai wali kelas XII IPS. Entar kamu bakal ngajerin anak-anak di kelasku…” Hanif tersenyum jahil
“Dilihat dari senyumanmu, ada sesuatu yang disembunyikan. Apa itu?”
“Tidak ada.” Hanif berdiri dari bangkunya dan beranjak. “Entar tau sendiri. Aku duluan ya…” Hanif berlalu meninggalkan rasa penasaran dan senyuman jahilnya dibenak Hana.

Hana mengira bahwa saat di sekolah akan terasa membosankan. Mengajar, bertemu siswa, bertemu guru dan menyapa setiap staf kepegawaian di sekolah. Memang Hana belum terbiasa melakukan hal tersebut. Tapi, rasanya sanget aneh bagi Hana. Setelah melihat Hanif berada di depannya, prasangkanya berubah. Rasanya ingin tetap di sekolah dan melihat betapa maskulinnya Hanif dengan pakaian olahraga. Dunia asmara Hana selalu dipenuhi dengan yang berkaitan olahraga. Seperti saat SMA yang naksir sama guru olahraga dan memiliki mantan seorang mahasiswa jurusan olahraga.
“Rasanya betah di sekolah kalau ada Hanif di sini…” Tatapan Hana masih terfokus pada titik terakhir tubuh Hanif sebelum menghilang dari pandangannya. Tangannya terus memainkan botol fruit tea yang sudah kosong.

About the Author: khavidin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *