Remaja Masa Kini Dalam Memaknai Maulid Nabi Muhammad SAW

Dalam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, penulis akan membahas mengenai makna maulid Nabi Muhammad SAW. Sebelum penulis menuturkan pendapat di tulisan ini, alangkah baiknya penulis menceritakan sedikit biografi singkat Nabi Muhammad SAW.

Abdullah dan Aminah merupakan orang tua dari suri tauladan kita yaitu Nabi Muhammad SAW. Pada tahun 571 Masehi, Kelahiran Nabi Muhammad SAW bertepatan dengan tanggal 20 April 571 Masehi. Nabi Muhammad SAW adalah keturunan dari Qushai pahlawan dari suku Quraisy yang telah berhasil menggulungkan kekuasaan Khuza’ah atas kota Mekah. Aminah melahirkan Nabi Muhammad SAW lalu di beritahukan kabar gembira itu kepada Abdul Muthalib di Ka bah, bahwa ia melahirkan anak laki-laki.

Remaja Masa Kini Dalam Memaknai Maulid Nabi Muhammad SAW

Alangkah gembiranya Abdul Muthalib mendengar kabar itu. Seketika ia teringat Abdullah anaknya. Cepat-cepat ia menemui menantunya itu, di angkatnya bayi itu lalu di bawanya ke Ka′bah. Bayi itu diberi nama Muhammad. Kini mereka sedang menunggu orang yang akan menyusukan Muhammad dari keluarga Sa′d (Banu Sa′d) untuk menyerahkan bayi itu kepada salah seorang dari mereka, sebagaimana sudah menjadi kebiasaan kaum bangSAWan Arab di Mekkah.

Di dalam buku Shahih Bukhari bab Mab’ats an-Nabiyyi SAW, Imam Bukhari merincikan silsilah nasab Nabi Muhammad SAW sebagai berikut: Muhammad SAW bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qusyai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’add bin Adnan. Imam Bukhari menambahkan di dalam Kitab Tarikh al-Kabir: Adnan bin Udud bin Al-Maqum bin Nahur bin Tarh bin Ya’rab bin Nabit bin Ismail bin Ibrahim.

Aminah masih menunggu salah seorang Keluarga Sa′d lalu menyerahkan bayinya untuk di susui sebagaimana sudah menjadi kebiasaan-kebiasaan bangaSAWan Arab di Mekkah. Akhirnya datang juga perempuan-perempuan Keluarga Sa′d . mereka memang mencari bayi yang akan di susukan. Tetapi mereka menghindari anak yatim.

Mereka masih mengharapkan sekedar balas jasa dari sang ayah. Oleh karena itu mereka tak ada yang mau mendatangi Muhammad. Tetapi Halimah Binti Abi Zuaib yang pada mulnya menolak Muhammad, seperti yang lainnya. Ternyata ia tidak mendapat bayi lain selain Muhammad. Kemudian Halimah mengambil Muhammad dan membawanya pergi bersama-sama dengan teman-temannya di pedalaman. Dia bercerita bahwa sejak mengambil anak itu ia merasa mendapat berkah ternak kambingnya gemuk-gemuk dan air susunya bertambah. Tuhan telah memberkati semua yang ada padanya.

Sesudah lima tahun kemudian Muhammad dikembalikan kepada ibunya. Kemudian Abdul Muthalib bertindak mengasuh cucunya itu. Memeliharanya dengan sungguh-sungguh dan mencurahkan segala kasih sayangnya kepada cucunya itu. Aminah bercerita panjang lebar tentang Abdullah kepada Muhammad.

Mengajaknya ke Medinah dan memperlihatkan rumah tempat ayahnya meninggal dan tempat ayahnya dikuburkan. Sudah cukup sebulan mereka tinggal di Medinah, Aminah sudah bersiap-siap untuk pulang. Ia dan rombongan kembali pulang dengan dua ekor unta yang membawa meeka dari Mekkah. Tetapi di tengah perjalanan ketika berada di Abwa , Aminah menderita sakit, yng kemudian meninggal dan di kuburkan di tempat itu. Muhammad dibawa pulang oleh Um Aiman ke Mekkah. Pulang sebatang kara, menangis dengan hati pilu. Ia makin merasa kehilangan. Sudah ditakdirkan ia menjadi yatim piatu.

Sejak kecil Muhammad SAW jauh dari tradisi-tradisi jahiliyah dan tidak pernah melakukan penyembahan terhadap tuhan berhala. Namun demikian beliau tetaplah seorang yang santun dan jujur, karenanya beliau terkenal dengan gelar Al-Amien (orang yang terpercaya). Pengasuh Muhammad dipegang oleh Abu Talib, walaupun ia bukan anak tertua di antara saudara-saudaranya.

Saudara yang tertua adalah Haris, tetapi dia tidak begitu mampu. Sebaliknya Abbas yang mampu, sangat kikir. Tetapi dalam kemiskinannya, Abu Talib mempunyai perasaan paling halus dan terhormat di kalangan Kuraisy. Tidak heran Abdul Muthalib Menyerahkan Muhammad kepadanya. Abu Talib sangat mencintai Muhammad sama seperti Abdul Muthalib. Karena kecintaannya itulah ia lebih mendahulukan Muhammad daripada anak-anaknya sendiri. Budi pekerti Muhammad yng luhur, cerdas, suka berbakti dan baik hati itu;ah yang membuat hati pamannya tertarik.

Di usia muda Muhammad menggembalakan kambing keluarganya dan kambing penduduk Mekkah. Dengan rasa gembira ia melakukan pekerjaannya itu. Lalu ia ditawarkan pamannya berdagang barang dagangan milik pedagang kaya yang bernama Khadijah yang berasal dari Keluarga (Bany) Asad. Muhammad pergi dengan Maisarah, laki-laki pesuruh Khadijah. Dengan kejujurannya Muhammad mampu memperdagangkan barang-barang Khadijah dengan untung yang banyak dari pada yang diperdagangkan orang lain sebelumnya.

Sesudah Nabi Muhammad SAW pulang dari perjalanan ke Syam itu, datanglah Lamaran dari pihak Sitti Khadijah kepada beliau, lalu beliau menyampaikan hal itu ke pamannya. Dengan kesepakatan dari pamannya, pernikahanpun dilangsungkan. Muhammad berusia 25 tahun sedangkan Khadijah 40 tahun.

Selain Khadijah, isteri-isteri beliau adalah: Saudah binti Zam’ah, Aisyah binti Abu Bakar, Hafshah binti Umar, Zainab binti Khuzaimah, Ummu Salamah (Hindun binti Umayyah), Zainab binti Zahsy, Juwairiyah binti Al-Harits, Ummu Habibah (Ramlah), Shafiyah binti Huyay, Maimunah binti Al-Harits dan Maria Al-Qibtiyah. Nabi Muhammad menikahi mereka semua setelah Khadijah meninggal dunia.

Dan mereka semua beliau nikahi dalam keadaan janda, kecuali Aisyah ra. Jika dilihat dari faktor tiap pernikahan beliau, semuanya mempunyai hubungan yang kuat dengan dakwah dan ajaran Islam yang dibawanya. Setelah beberapa lama menikah beliau memiliki Anak dan putri Nabi Muhammad SAW adalah: Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fathimah, Abdullah dan Ibrahim. Mereka semua lahir dari rahim Khadijah kecuali Ibrahim dari Maria Al-Qibtiah. Anak-anak beliau yang laki-laki semuanya meninggal sebelum usia dewasa.

Turunnya wahyu pertama QS. Al-A’la: 1-5 di gua Hira pada hari Senin di bulan Ramadan pada usia yang ke 40 menjadi awal kerasulan Muhammad SAW. Wahyu pertama tersebut berisi:
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, Yang menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajari (manusia) dengan pena, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

(QS. Al-A’la: 1-5)

Setelah menerima wahyu tersebut, Muhammad SAW pulang menemui Khadijah dan mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dirinya. Khadijah menenangkan:

“Bergembiralah! Demi Allah, Dia tidak akan pernah menyia-nyiakanmu. Demi Allah, engkau ini menghubungkan shilaturrahim (hubungan kerabat), berkata jujur, menanggung beban orang lemah, membantu orang yang tidak punya, memuliakan tamu, menolong orang-orang yang ditimpa bencana.
“Khadijah lalu mempertemukannya dengan anak pamannya Waraqah bin Naufal, seorang pendeta Nasrani. Setelah menjelaskan peristiwa yang baru dialaminya di gua Hira, Waraqah menjelaskan bahwa yang datang kepada Muhammad SAW itu adalah malaikat yang pernah datang kepada nabi Musa As. “Andai kata aku masih hidup dan kuat di saat engkau diusir oleh kaummu” kata Waraqah. “Apakah mereka akan mengusirku?” Tanya Muhammad SAW. “Ya…,” jawabnya. (lihat HR Bukhari dan Muslim).

Kaum muslim merayakan lahirnya Nabi Muhammad pada tanggal 12 Rabiul Awal. Perayaan ini bukanlah sebuah simbol seremonial belaka. Tetapi sebuahh momen spiritual untuk mentahbiskan beliau sebagai sosok teladan yang mengisi pikiran setiap umatnya. Setiap daerah memiliki cirri khas tersendiri dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW salah satunya shalawat berjama’ah. Allah SWT Berfirman:

“Sesungguhnya Allah SWT dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya,” (QS. Al-Ahzab: 56)
Peringatan Nabi Muhammad SAW sudah menjadi tradisi bagi setiap kaum muslim di setiap daerah setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Tujuan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan wujud rasa syukur, kegembiraan, dan penghormatan kepada Rasul utusan Allah SWT.

Karenanya, agama islam telah sampai menjadi pedoman hidup umat di dunia. Bahkan, negara kita Indonesia menjadikan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW sebagai hari libur nasional. Meskipun begitu, apakah setiap umat islam memaknai perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW? Apakah kaum muda berpartisipasi dalam memperingati perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW? Memang Nabi Muhammad SAW tidak pernah meminta umatnya untuk merayakan hari kelahirannya. Sebagai umat islam, tentunya memiliki cara tersendiri untuk menghormati dan memuliakan Rasul utusan Allah SWT yaitu dengan cara merayakannya.

Membincangkan masalah Maulid Nabi Muhammad SAW tentu tidak hanya membicarakan masalah kelahiran beliau, sunnah dan bid’ah atau kegembiraan. Dalam konteks yang tepat adalah apakah umatnya telah benar-benar mengikuti segala yang diteladankan kepada umatnya? Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul ke dunia untuk dicontoh sikap dan akhlak baiknya. Bukan hanya sebagai manusia yang menyampaikan kebenaran agama islam.

Umat islam sekarang ini sudah terpecah belah hanya karena berbeda pendapat. Mereka tidak merasa bahwa saudara-saudaranya yang muslim adalah saudaranya. Bahkan mereka saling bermusuhan hanya karena berbeda pandangan. Sejarah telah mencatat bagaimana umat islam masa lampau saling bertengkar hanya karena berbeda pendapat dan pandangan. Apalagi yang menyangkut dengan politik dan pemerintahan. Tentu kaum muda mengingat sejarah perang sifin antara pengagum Ali dan pengikut Muawiyah? Peperang tersebut bukan menjadi sejarah yang kelam dalam perjalanan umat islam.

Remaja masa kini memiliki peran yang aktif untuk menimbulkan semangat diseketiarnya dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Remaja inilah yang menggagaskan untuk memberikan kegiatan yang bermanfaat dilakukan dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Namun, apa yang diharapkan tidak berjalan semestinya. Remaja masa kini lebih asik dengan aktivitasnya sendiri daripada aktivitas keagamaan. Tentunya remaja masa kini harus memberikan makna dari Maulid Nabi Muhammad SAW kepada lingkungan sekitarnya yang belum begitu memahami Nabi Muhammad SAW. Tentunya Maulid dapat menjadi cara yang efektif dalam mengenalkan kepada mereka yang buta akan suri tauladannya.

About the Author: khavidin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *