Kisah inspiratif: cita-cita ku menjadi guru SD

Kisah inspiratif: cita-cita ku menjadi guru SD

Kisah inspiratif- Kebahagianku sekarang begitu sederhana. Melihat mereka mampu menuliskan apa yang aku tuliskan, mengucapkan apa yang aku ucapkan, melakukan apa yang aku perintahkan”

 

Kisah inspiratif: cita-cita ku menjadi guru SD

 

Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta dan tak cinta maka tak akan menikah. Namaku Elsa Dwitri. Tak perlu ku jelaskan makna namaku, perlu waktu yang panjang untuk menjelaskannya. Aku taklah termasuk siswi yang pandai di sekolah. Hanya kebetulan ada rezeki saja yang membuatku bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sedikit akan ku ceritakan masa kecilku yang sedikit suram. Aku tak memiliki ayah sejak lahir, di besarkan oleh seorang wanita tangguh berhati malaikat yang kusebut Ibu.

Saat pertama ku mulai pendidikan di bangku sekolah dasar, aku merasa bersemangat. Berangkat bersama dengan abang-abangku, sepupu dan teman-teman sepermainan. Kebetulan sekolah tak begitu jauh dari rumahku. Aku sangat senang bertemu banyak teman. Kesenanganku mulai terganti menjadi penderitaan saat aku duduk di kelas 3. Teman sebangkuku membullyku. Segala tugasnya aku yang mengerjakan. Jika aku menolak aku tidak di perbolehkan duduk. Aku tak berani melawan. Karena memang aku tidak berani dengannya. badannya lebih besar dariku. Setiap hari yang kulalui di sekolah dengan penuh penderitaan. Aku tak bersemangat belajar. Sampai aku tak ingin bersekolah. Melihat perubahan, Ibu langsung mendatangi sekolah. Mencari tahu ke sekolah hal yang membuatku tidak mina ke sekolah. Setelah Ibu masuk ke dalam kelasku, semua teman-teman menunjuk ke arah teman sebangku yang membullyku sambil berteriak. “Dia, Bu! Dia yang jahat sama Elsa…” aku bersyukur, akhirnya tempat dudukku di pindahkan.

Di kelas 6, peringkatku menurun. Aku mendapatkan ranking terakhir saat semester ganjil. Ibuku tidak marah. Mau tau mengapa? Aku akan menjelaskannya. Sistem di sekolahku waktu itu berbeda. Saat aku kelas 5 semester genap, aku mendapat ranking 17. Siswa yang mendapat ranking 20 besar bisa masuk ke kelas 6-A dan sisanya menempati kelas 6-B. Dapat di simpulkan kelas 6-A adalah kategori siswa yang pintar. Wajar saja aku mendapat ranking terakhir karena semua teman-temanku kategori siswa yang sangat pintar dan aku adalah siswa lumayan pintar. Kembali ke sistem yang telah aku jelaskan. Aku pindah ke kelas 6-B. Di kelas 6-B aku mendapatkan teman-teman yang baik. Aku masih ingat dengan mereka. Tahun 2008 aku menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di MIS AL-HIDAYAH Patumbak.

Aku melanjutkan pendidikan sekolah menengah pertama di SMP favorit. Semua teman-temanku masuk ke sekolah itu. MTsN 1 Model Medan mungkin sekarang sudah berganti nama menjadi MTsN 1 Medan. Di sana aku mulai belajar fisika, kimia, biologi, sejarah, geografi dan ekonomi. Aku tidak suka belajar yang berhubungan dengan rumus dan angka seperti matematika, fisika, dan kimia. Masa SMP ku biasa saja, belum mengenal tentang cinta seperti teman seusiaku. Teman sekelasku bahkan berpacaran. Pada masa SMP lah aku pertama kali mendapatkan hape. Hehehe… tahun 2011 aku lulus dari sekolah menengah pertama dengan nilai yang baik.

Di pendidikan sekolah menengah atas aku mengalami dilema. Ibu menawarkan dua sekolah yang harus aku pilih. Sekolah favorit se-kota Medan yaitu MAN 1 Medan letak sekolah sangat jauh dari rumah atau sekolah biasa saja yaitu MAN 3 Medan. Aku bingung. Satu sisi aku ingin sekolah di MAN 1 Medan namun aku terkendala jarak. Akhirnya ku putuskan untuk sekolah di MAN 3 Medan yang letaknya bersampingan dengan sekolah MTs-ku.

Masa pubertas ku mulai di sini. Aku mulai berpacaran. Menyukai lawan jenis. Mulai melakukan hal-hal nakal yang masih di terima nalar. Pernah sampai Ibuku di panggil ke ruang BK karena aku tidak membayarkan uang sekolah sebanyak tiga bulan. Aku masih ingat, Buk Diana memberikanku nasihat tentang betapa lelahnya Ibuku mencari nafkah sendirian tanpa seorang ayah. Aku tersentuh dan menangis. Perlahan aku berubah. Setiap hari Bu Diana selalu mengontrol kehadiranku.

Saat-saat penentuan pemilihan jurusan yang sesuai dengan keinginan telah tiba. Sudah pasti aku tidak memilih jurusan IPA. Aku ingin memilih masuk jurusan IPS saja. kebetulan sekolahku baru membuka jurusan baru yaitu, Jurusan Ilmu Agama. Ibuku melarangku masuk ke jurusan IPS. Mungkin karena dia dulu mantan alumni IPS dan sudah pasti tau sepak terjang tentang jurusan IPS. Aku disuguhkan pilihan mengenai jurusan yag akan aku pilih. IPA atau Ilmu Agama. Kalian sudah pasti tau jurusan apa yang aku pilih. Baiklah, aku tak perlu menjawab lagi.

Ushul Fiqh, Ilmu Kalam, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis, pelajaran agama umum lainnya menjadi makananku setiap hari umat dan sabtu. Buku yang kami gunakan sama seperti buku yang di gunakan mahasiswa UIN/IAIN. Setiap hari harus menyetor hadis kepada wali kelas. menghafal kosakata bahasa arab, dan membaca Al-Quran. Di jurusan IA, aku bertemu dengan teman SD yang pernah membully-ku. Dia kembali melakukannya. Aku tak pernah membalas apalagi mendengarkan cibirannya. Aku diam saja dan akhirnya dia lelah juga lalu berhenti membully-ku. Masa SMA ku sangat indah. Memiliki teman-teman baik yang membuatku terus betah di sekolah. Aisyah, Septia, Yofi, Maya, Alwizah, Fitri pokoknya semua anak PERSIA STAMBUK 2011 aku senang mengenal kalian.

Aku mengikuti seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri. Wali kelasku bertanya apakah aku mau melanjutkan pendidikan atau tidak. Aku berterus terang tentang kondisi keluargaku. Ibuku tak punya biaya untuk menguliahkanku. Biaya kuliah sudah pasti sangat mahal. Apalagi pekerjaan Ibuku hanya karyawan biasa. Namun, wali kelasku memberikan saran agar aku mau melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi. Dia memberi saran agar aku bekerja saat kuliah.

“Ya, Pak! Saya mau kuliah…” jawabku

“Mau ambil jurusan apa?” Wali kelasku menyodorkan kertas berisikan daftar jurusan yang ada di pergutuan tinggi itu. Dalam fikiranku, pelajaran di perguruan tinggi pasti sangat sulit. Aku memilih jurusan yang mudah saja.

“PGRA, Pak!” jawabku

“Yakin mau ambil PGRA? Kalo Kamu mau jadi guru TK, tamat SMA kamu udah bisa jadi guru TK…”

Oh iya yah? Begitu fikirku. Ku melihat lagi daftar jurusan itu. ku balik lembar demi lembar. Pilihaku jatuh pada jurusan PGMI. Hanya itu pembelajarannya sangat mudah, menurutku. Perjuangan awal aku kuliah sangat berat. Setalah pengumuman kelulusan jalur SNMPTN, aku memikirkan bagaimana caraku mencari uang pembayaran uang kuliah pertama sebanyak Rp.1.300.000. Aku bekerja di sebuah produksi rumah tangga milik orang China. Setiap minggu aku digaji Rp.260.000. Hampir setengah tahun aku menekuni pekerjaan itu dan menabung untuk biaya kuliah. Hingga tiba waktu pendaftaran ulang, uangku hanya ada Rp.700.000. Ibuku memberikan tambahan sebanyak Rp. 300.000. Masih kurang Rp.300.000 lagi. Aku meminjam uang milik saudaraku. Akhirnya aku bisa membayarkan uang kuliahku. Usai mendaftar, aku masih bekerja sampai waktu OSPEK tiba.

***

Hari ini, hari pertamaku menjadi seorang guru setalah seminggu lalu aku telah mendapatkan gelar sarjana pendidikan. Aku berdiri di depan kelas dengan rasa ketakutan. Takut apa yang aku ajarakan tidak di pahami siswaku, takut siswaku menjadi manusia yang gagal, takut aku tidak bisa menjadi guru yang baik. Ku pandangi wajah-wajah mereka yang polos. Ku panggil nama-nama mereka melalui buku absen kelas. satu persatu ku panggil nama mereka.

“Baiklah, di sini Miss mau memperkenalkan diri. Nama Miss, Miss Elsa…”

Mereka terdiam, tak ada respon apapun. Aku meminta mereka berdiri satu persatu di depan kelas untuk memperkenalkan diri. Ada yang percaya diri, ada yang masih malu-malu dan ada yang tak mau memperkenalkan dirinya. Di sini kesabaranku di uji. Aku harus bisa membujuk mereka agar berani menampilkan diri di depan kelas. Ini tugas pertamaku.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai terbiasa. Aku sangat menekuni profesiku sebagai guru. Aku mulai menyayangi siswaku. Betapa senangnya aku ketika mendengar anakku mendapat juara cerdas cermat antar kelas 1,2 dan 3. Mereka meraih juara satu dan dua. Aku tak pernah menduga jika siswaku mempu mengalahkan kakak kelasnya. Aku semakin termotivasi untuk mengajari mereka. Targetku untuk mereka yang belum bisa membaca adalah harus bisa membaca sebelum naik ke kelas 2. Semoga saja tercapai. Amin!

Guru adalah manusia  biasa yang memiliki masalah pribadi. Aku adalah orang yang tak bisa mengontrol emosi. Saat melihat mereka duduk rapi dan mengerjakan apa yang aku tuliskan, mengucapkan apa yang aku ucapkan, melakukan apa yang aku perintahkan. Kebahagianku sekarang begitu sederhana. Melihat mereka mampu menuliskan apa yang aku tuliskan, mengucapkan apa yang aku ucapkan, melakukan apa yang aku perintahkan. Menjadi guru ada suka dukanya. Menurutku, jika kita memahami cara menjadi guru yang baik maka akan banyak kebahagian yang didapatkan. Aku bersyukur, cita-cita yang ku inginkan sejak sekolah dasar bisa terwujud.

 

By: Elsa Dwitri

Tinggalkan komentar