Kisah cinta: Kau Puisi (Hijrah) Part2

Kisah cinta- Malam ini terasa sejuk. Meluangkan waktu untuk menikmati cokelat panas dan beberapa makanan ringan sudah cukup untuk memanjakkanku dari penatnya urusan kulliah yang setiap harinya di penuhi tugas-tugas. Malam tidak begitu bersahabat. Tak ada bintang dan bulan yang menghiasi gelapnya langit. Hanya rintikkan hujan yang membasahi jalanan dan meninggalkan genangan.

Balkon apartemen adalah tempat favoritku saat malam. Aku bisa melihat suasana kota Belanda yang gemerlap. Orang-orang sedang berjalan kaki menuju tempat tinggal masing-masing setelah melalui kesibukkan di kantor. Beginilah kehidupanku di Belanda. Pulang kuliah langsung kembali ke apartemen dan tak ada aktivitas lain. Aku sudah melamar perkerjaan di coffe shop yang menerima pekerja freelance. Namun belum ada panggilan yang pasti.

Suara ponselku berdering. Sebuah nomor panggilan darri Indonesia. Tertera di layar bertuliskan nama Ibu. Sudah hampir tiga bulan aku belum menghubungi Ibu.

Kisah cinta: Kau Puisi (Hijrah) Part2

“Halo, Gibran…” sapa Ibuku dengan suara lembutnya.

“Iya, Bu? Gibran minta maaf ya, Bu? Belakangan ini banyak tugas yang harus Gibran selesaikan.”

“Ibu, Paham. Om Faisal juga udah bilang ke Ibu.”

“Om Faisal udah di Indonesia?”

“Udah, kemarin baru sampai…”

“Hadiah dari Gibran buat Ibu udah di terima?”

“Udah, bagus. Ibu suka.”

Seketika hening

“Oh iya, kenapa ada dua? Satu lagi buat siapa?” tanya Ibu

“Uhmmm… temen, Bu.”

“Hampir aja Ibu lupa. Seminggu lalu ada anak perempuan yang nyariin kamu…”

Aku terdiam “Siapa?”

“Siapa ya?” Ibu terdiam memikirkan sesuatu “ Lupa! Namanya susah untuk di ingat…”

Aku tertawa “Entar kalo udah ingat kabarin ke Gibran.”

“Iya, sudah ya. Ibu mau pergi ke rumah Buk Ratna.”

Rasa rinduku semakin bertambah setelah mendengar suara malaikat bersuara lembut. Aku belum terbiasa untuk jauh dari Ibu. Tak pernah sekalipun aku berniat untuk menempuh pendidikan keluar kota maupun luar negeri. Ibu adalah tempat ternyaman yang ku punya.

Kelak aku akan menemukan sosok pengganti Ibu. Seketika aku teringat dengan Nazanin. Bagaimana kabarnya? Ku raih tas ranselku, mengambil laptop dan membukanya. Aku duduk di depan layar. Membuka instagram milikku. Ku klik ikon search jari jemariku mengetik nama akun miliknya nazaninn8. Terlihat jelas foto-foto dirinya yang sedang tesenyum bersama teman-teman baru di kampus. Dia masih tetap sama. Senyumnya dan tatapan matanya. Sedikit perubahan yang terjadi, dia sudah berhijab.

Aku memerhatikan satu foto yang menunjukkan dia sedang berdiri di depan kaca sambil memegang ponselnya. Dia begitu anggun dengan hijab yang menutupi dada. Caption yang tertulis di bawah foto membuatku tersentuh.

Tak ada kata terlambat untuk berhijrah. Memperbaiki diri secara perlahan dan tidak terburu-buru. Masa laluku begitu mengerikan, aku tak peduli dengan dosa. Aku hanya menginginkan pujian-pujian dari lelaki yang belum tentu menyukaiku dari sisi kekuranganku. Sekarang aku ingin move on dari segala dosa masa lalu. Aku ingin memperbaiki hidupku.

Nazanin terlihat berbeda dengan kerudung yang menutupi rambut hingga ke dada. Aku yang selalu memerhatikannya sudah pasti sangat hafal bagaimana dia tanpa hijab. Rasa kagumku semakin dalam. Sungguh rasa sukaku padanya semakin tumbuh. Rasanya aku ingin segera kembali ke Indonesia secepat mungkin. Ku tutup laptop lalu melangkahkan kaki ke kamar. Merebahkan diri di atas kasur. Sebelum aku memejamkan mata, aku selalu mengucapkan selamat malam kepada Nazanin walaupu  dia tak mendengarnya. Selamat malam, Nazanin.

***

Pagi ini trotoar di penuhi orang pejalan kaki yang sedang terburu-buru menuju kantor. Aku berjalan sambil menikmati hangatnya coffe menuju kampus. Kelas masih terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang yang duduk sambil melakukan aktivitas lain. Aku ingin mengisi perutku dengan beberapa sandwich di kantin. Tak jauh dari kelas, ada kantin di ujung koridor. Sepertinya sempat untuk mengisi perut agar bisa konsentrasi saat belajar. Jika saat belajar sedang kelaparan, aku tidak bisa fokus menangkap pelajaran.

“DEEER!!” seseorang mengagetkanku dari belakang.

“Astaga!!” aku tersentak

Dia tertawa lalu duduk di sebelahku “Kaget ya?”

“Banget!”

“Gak masuk kelas?” tanyanya sambil mengunyah roti.

“Masih sepi. Males. Entar aja…” aku menikmati sandwich yang hampir habis.

“Entar malam, ada acara gak?”

“Kenapa?”

“Temenin aku. Ada acara kumpulan sama anak fakultas.”

“Emang beda fakultas boleh ikut?”

“Boleh, dong. Pokoknya harus ikut.” Dia mengusap mulutnya dengan tissu “Aku gak suka digodain sama mereka. Nah, kalo kau ikut , terus ngaku jadi pacarku mereka gak akan ganggu.”

“… Dan itu memang keinginanmukan?”

Dia mengangguk “Kau adalah cowok pertama yang aku tembak.”

“Apa aku harus senang?”

“Sihlakan!” dia tertawa. “Entar malam ku jemput di apartemen.”

Kelas dimulai sangat terlambat. Dosen yang seharusnya mengajar hari ini tidak hadir. Hanya asisten dosen yang menggantikan. Aku sangat tidak suka dengan sikap asisten dosen itu. Dia merasa hanya dirinya yang paling benar. Tidak boleh mengkritik apalagi bertanya sebelum di pinta. Moodku unruk belajar di rusak olehnya.

Di perpustakaan aku mulai memperbaiki mood. Membaca beberapa buku dan menulis sedikit dari buku yang aku baca. Aku terdiam seketika. Kembali aku mengingat Nazanin dan Bora yang mengajakku ke acara fakultasnya. Aku merasa mengkhianati Nazanin jika menuruti keinginan Bora. Sementara Bora adalah temanku. Rasa bingung menyergapiku. Aku berada di anatar dua pilihan. Cinta atau teman. Ku rapikan buku-buku di atas meja lalu memasukkan barang-barang milikku ke dalam tas ransel. Bergegas aku kembali ke rumah.

Ponsel di atas meja belajar berdering. Aku melihat ada 89 panggilan tak terjawab dari Ibu. Aku letakkan tas ku di atas kasur lalu mencoba kembali menelfon Ibu. Aku sangat takut jika terjadi sesuatu pada Ibu.

“Halo, Buu… Buuu.” Panggilku penuh khawatir.

“Iya, Kenapa?”

“Ibu, gak apa-apa?” tanyaku

“Kenapa emang?”

“Tadi nelfonin Gibran sampe 89 kali?”

“Masa sih?”

“Ya ampun, Bu. Serius ini…”

“Tadi hape di mainin Bani.”

Astaga! Kirain ada apaan

“Gibran udah khawatir di sini. Kirain ibu….”

Ibu memotong ucapanku “Hush! Gak boleh gitu.”

“Iya…” jawabku lirih

“Ibu inget siapa perempuan yang cariin kamu itu.”

“Siapa?”

“Nazanin!”

Aku terdiam

About the Author: khavidin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *