lgbt

5 Faktor seseorang menjadi bagian LGBT

Fenomena LGBT

Pada masa ini ada banyak fenomena yang dapat di temukan. Salah satunya adalah fenomena LGBT yang sedang marak diperbincangkan. Belakangan ini kamu pernah melihat pemberitaan dimedia cetak, media elektronik maupun media sosial tentang lesbian, gay, biseksual dan transgender. Mereka secara terang-terangan menunjukan identitas dirinya dengan membuat grup di facebook dan mengadakan pesta seks sesama jenis.

Tentu kamu merasa miris dengan kehidupan sekarang ini. Sebuah studi menunjukkan perilaku homoseksual dan ketertarikan sesama jenis banyak dijumpai diusia 15 tahun. Keadaan ini memperlihatkan kelompok usia sekolah adalah usia yang rentan untuk mulai terlibat dalam hubungan sesama jenis. Remaja muda yang terindikasi homoseksual terjadi karena kurangnya pengetahuan mengenai resiko hubungan seks yang mengakibatkan terserang virus HIV.

Ada pro dan kontra terhadap fenomena LGBT ini. Bagi mereka yang pro beranggapan para pelaku LGBT berhak menentukkan hidupnya (Lagian itu hidup dia, toh ngapain ikut campur) dan mereka yang kontra berpendapat tentang pelaku LGBT harus dimusnahkan, biang dari segala bencana yang muncul, pendosa besar, manusia yang dilaknat Tuhan dan berbagai cemoohan lainnya. Cobalah kamu berpikir secara logis mengapa mereka berbuat seperti itu? apa yang mendasari mereka memutuskan melakukan itu? Baiklah, penulis akan mengungkapkan seseorang cenderung menjadi bagian LGBT

1. Keluarga

Keluarga adalah sandaran hidup. Tempat paling aman saat tertimpa masalah. Terutama orang tua merupakan pendidikan pertama bagi para anaknya agar menjadi pribadi yang baik. Bagaimana jadinya jika peran keluarga menjadi alasannya terbentuknya LGBT pada seseorang?

Para pelaku LGBT mungkin memiliki pengalaman pahit di keluarganya berupa perceraian orang tua, perlakuan kekerasan atau broken home yang menjadi trauma di dalam dirinya. Mendapat perlakuan kasar oleh ayah atau ibu membuatnya beranggapan semua laki-laki dan perempuan bersikap kasar dan kejam. Misalnya seorang pelaku lesbian, memiliki pengalaman yang dirasakannya saat masa kanak-kanak dilakukan oleh pria. Kekerasan yang di dapat bisa berupa fisik atau mental yang membuatnya merasa tertekan dan trauma. Maka timbullah kebencian di dalam diri para pelaku lesbian tersebut. Apa kamu menyadari betapa tersiksanya mereka di masa lalu?

2. Pergaulan bebas

Berteman dengan siapapun tidak dilarang. Semua orang berhak memilih dengan siapa mereka berteman. Asal tau bagiaman cara berteman yang baik. Ada sebagian dari kamu memiliki teman yang sedikit “Nakal”. Tentu kamu tidak perlu membencinya atau menjauhinya. Berilah dia nasihat bahwa yang dilakukan itu adalah salah. Dalam pergaulan yang bebas juga bisa membentuk pribadi seseorang menjadi pelaku LGBT.

Misalnya, seorang anak tidak mendapat perhatian, kasih sayang, pendidikan masalah agama, seks maupun pendidikan sejak dini. Disaat dia menemukan teman yang lebih mengerti dia dan menyayanginyan serta memberikan perhatian yang lebih padanya. Tapa disadari, teman yang dianggapnya baik justru menjerumuskannya ke kehidupan gelap seperti narkoba atau perilaku seks bebas yang berupa LGBT. Tidak hanya itu saja, budaya luar yang masuk bisa mengubah pola pikir mereka. Maka terjadilah pergeseran norma-norma. Mungkin kamu bisa merasakan budaya luar negeri yang masuk ke negara ini?

3. Genetik

Berhubung penulis kurang memahami masalah genetik, penulis mengambil beberapa pendapat peneliti tentang masalah ini. Dari yang mereka tuliskan, dalam dunia kesehatan pada umumnya seorang lelaki normal memiliki kromosom XY dalam tubuhnya sedangkan wanita yang normal memiliki kromosom XX. Akan tetapi dalam beberapa kasus ditemukan bahwa seorang pria bisa saja memiliki jenis kromosom XXY, ini artinya bahwa lelaki tersebut memiliki kelebihan satu kromosom. Akibatnya adalah lelaki tersebut bisa memiliki perilaku yang agak mirip dengan perilaku perempuan.

4. Akhlak dan Moral

Mendapatkan pendidikan akhlak dan moral biasanya didapatkan di keluarga atau pendidikan formal dan informal. Bila memiliki akhlak dan moral yang terpuji, maka akan menjadi pribadi yang terpuji pula. Namun bila sebaliknya, hal-hal buruk bisa mengkontaminasi diri. Iman yang rapuh akan mengoyahkan nafsu.

Ketahuilah iman adalah benteng yang efektif untuk menghindari terjadinya perilaku seks yang menyimpang. Kuatnya iman dalam hati akan menghindari dari segala perilaku tercela. Bukan hanya perilaku menyimpang tetapi perilaku buruk lainnya. Memiliki iman yang kuat senantiasa akan mengingatkanmu pada sang pencipta. Menyadari akan hal yang salah adalah salah. Hal yang benar adalah benar. Misalnya, menonton video porno adalah hal buruk yang bisa merusak otak. Kamu menyadari itu adalah salah maka kamu tidak melakukannya.

5. Keinginan Pribadi

Sebuah dasar seseorang ingin menjadi pelaku LGBT adalah keinginan dalam dirinya tanpa ada dorongan orang lain. Sebenarnya penulis juga kurang yakin dengan pernyataan ini, tetapi menurut penulis, pernyataan ini bisa menjadi faktor terdorongnya manusai menjadi pelaku seks menyimpang. Penulis ambil contoh, dia sangat gemar menonton video porno yang menayangkan kegiatan seks menyimpang. Hasrat dalam dirinya terdorong untuk melakukan hal tersebut. Sepertinya enak, kayaknya seru, penasaran gimana rasanya dalam hatinya mungkin berkata seperti itu.

Setiap negara memiliki aturan dan hukum sendiri menanggapi tentang LGBT ini. saat ini negara kita memiliki status yang belum jelas mengenai hukum dan undang-undang LGBT. Meskipun masyarakat beranggapan seks menyimpang ini bukan dari budaya kita, akan tetapi undang-undang tidak beranggapan bahwa perilaku seks menyimpang adalah perilaku kriminal selagi tidak melanggar peraturan. Jika pemerintah tidak menetukkan sikap untuk membentuk undang-undang tentang LGBT, maka perilaku LGBT akan bebas keluar masuk negara kita. bukankah budaya kita tidak ada yang seperti itu?

Negara kita menjunjung tinggi semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu. Bukankah makna itu sangat berarti untuk persatuan bangsa? Bila diantara teman-temanmu mengalami seks menyimpang, apa yang kamu lakukan? Menjauhinya atau merangkulnya? Sebagian kita merasa jijik, menganggapnya lebih hina dari binatang bahkan sampai menghinanya. Bukankah itu mendiskrimansinya? Dalam islam sifat itu termasuk bagian akhlak tercela. Islam memang tidak membenarkan perilaku LBGT dan telah dijelaskan dalam Al-Qur’an.

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim” (Q.S Hud : 82-83)

Pada masa Nabi Luth AS sempat merasa sulit menghadapi kaumnya yang memilki perilaku seks menyimpang. Apakah Nabi Luth mencemoohnya? Beliau tak pernah sekalipun menghina kaum sodom. Lah itukan Nabi? Aku kan manusia? Terus? Kalau kamu manusia apa berhak menetapkan orang berperilaku seks menyimpang berdosa besar? Bukankan setiap manusia tidak ada yang sempurna dan luput dari dosa? Apakah dengan kamu mencemooh dan menghinanya akan membuatnya berubah. Tidak! Lakukanlah hal yang bermanfaat untuknya dengan cara tidak mengucilkan kehidupan perilaku LGBT baik dalam lingkungan keluarganya maupun lingkungan masyarakat. Menjadi penyemangat bagi pelaki LGBT agar bisa meninggalkan kebiasaan tersebut.

Memberi tahu tentang bahaya perilaku LGBT. Penulis berharap setelah membaca tulisan ini, kamu tidak lagi menebar kebencian terhadap pelaku LGBT. Mereka sama seperti kita hanya saja pengalaman hidup yang dijalaninya sedikit berbeda.

About the Author: khavidin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *