Dampak Media Sosial Bagi Remaja Masa Kini

Dampak Media Sosial Bagi Remaja Masa Kini

Di zaman teknologi sekarang ini, sudah banyak terjadi perubahan dari yang tradisional menjadi serba canggih, dari yang manual menjadi otomatis, dari yang menggunakan tenaga manusia menjadi menggunakan tenaga mesin atau robot. Dalam bidang pertanian contohnya petani zaman dahulu menggunakan sapi untuk membajak sawah. Zaman sekarang ini sudah menggunakan mesin yaitu traktor. Zaman dahulu untuk menyampaikan pesan kepada seseorang melalui surat, terkadang butuh waktu 2-3 hari surat tersebut diterima si penerima. Bila dilihat dari zaman sekarang, semua sudah dipermudah dengan teknologi. Orang-orang bisa bertukar kabar melalui aplikasi Whatsapp, BBM, Instagram, Twitter, Facebook dan lain sebainya. Bahkan bisa bertatap muka melalui fitur video call.

Dampak Media Sosial Bagi Remaja Masa Kini

Media sosial masa kini sudah menjadi candu di kalangan masyarakat apalagi di kalangan kaum muda masa kini. Gak punya medsos? Gak kekinian begitu kira-kira. Lain halnya dengan orang dewasa yang menjadikan media sosial sebagai ladang bisnis. Salah satunya adalah bisnis online. Beberapa dari kalian pasti pernah melihat remaja masa kini mengenggam smartphone di tangan hampir 24 jam. Apalagi kalangan remaja alay yang hobi berselfie di tempat tak lazim hingga mengakibatkan nyawa melayang hanya untuk mengejar like dan love dari followers atau pertemanannya. Media sosial memang menawarkan fitur-fitur menarik yang membuat remaja menjadi betah berlama-lama di depan layar ponselnya. Ketika saat belajar di kelas, masuk pemberitahuan chat dari seseorang yang dapat mengganggu konsentrasi belajarnya. Tentu akan membuat remaja tidak memerhatikan penjelasan dari guru.

Semakin lama mengakses jaringan internet tidak hanya dibatasi di daerah perkotaan saja, akan tetapi sudah menjangkau masyarakat desa. Bagi remaja media sosial adalah gaya hidup. Mereka bisa mengungkapkan perasaannya dan berbagi keresahan dengan teman-teman media sosialnya. Remaja yang masih dalam perkembangan emosional dan pola pikir membuatnya menelan mentah-mentah informasi yang diterima atau muncul dari timeline media sosialnya. Ketika melihat berita yang sedang viral dibahas, jempolnya langsung menekan tombol share.  Hal ini banyak kalangan remaja yang tidak menelaah sumber terpercaya dari berita atau informasi, sehingga mereka menjadi korban berita hoax.

Keberadaan media sosial memang ada manfaatnya bagi orang yang benar-benar menggunakannya dengan benar. Dengan media sosial bisa mendapatkan uang dan memperluas bisnis tanpa modal. Remaja masa kini sedang dalam fase perkembangan yang memajukan pola pikirnya. Jika remaja mendapatkan hinaan, intimidasi, ancaman dan pelecehan akan menganggu psikologis dan kesehatan mental mereka. Hinaan atau intimidasi bisa didapat dari mana saja. Salah satunya adalah media sosial. Cyber Bullying adalah bentuk tindakkan ancaman berupa intimidasi, hinaan, pelecehan sehingga menganggu orang yang lemah. Pelaku dan korban Cyber Bullying di dominasi oleh remaja. Korban yang menerima tindakkan Cyber Bullying akan mengganggu kesehatan mental, depresi hingga menyebabkan bunuh diri. Kebiasaan remaja yang mengutarakan ekspresi emosionalnya di media sosial menyebabkan bermulanya tindak Cyber Bullying. Perasaan tidak sukanya bisa di tulis melalui postingan dengan kata sindiran yang kasar. Pelaku Cyber Bullying mungkin tidak merasa itu membuat orang lain merasa sakit hati atau jiwanya teguncang.

Keberadaan media sosial menjadi problematika tersendiri bagi remaja masa kini. Dampak dari media sosial bagi remaja hanya memunculkan sisi negatifnya saja. Hal itu terjadi karena remaja tidak bijak menggunakannya. Penulis akan menjelaskan beberapa dampak negative dan dampak positif

Dampak Negatif Media Sosial

1. Keterbukaan Informasi

Seperti yang sudah penulis paparkan sebelumnya, remaja cenderung terbuka dengan keresahan atau masalah yang terjadi padanya. Media sosial merupakan wadah bais remaja untuk menyalurkan keresahan tersebut. Memberitahukan masalah yang terjadi di media sosial sama halnya menunjukkan kelemahan diri. Bukan mendapat solusi untuk menyelesaikan masalah, malahan mendapatkan ejekkan dari orang lain. Masalah satu belum selesai, sudah datang masalah yang lain. Sudah jatuh tertimpa tangga.

2. Konten Dewasa

Internet bersifat bebas akses. Tidak dapat dipungkiri jika dalam media sosial remaja bisa menemukan konten dewasa. Remaja yang sedang dalam fase perkembangan memiliki rasa ingin tahu tinggi mencoba mencari tahu apa yang ada dalam konten dewasa tersebut. Dengan mudahnya remaja mengakses tentang konten pornografi dan melihat postingan berbau pornografi. Hal tersebut bisa membuat remaja terkena perilaku seks bebas.

3. Kecanduan

Efek dari keseringan mengakses media sosial akan membuat remaja kecanduan. Salah satu cirri-ciri yang muncul setelah kecanduan media sosial adalah tidak bisa lepas dari ponselnya, selalu aktif di media sosial, lupa makan, lupa belajar sampai begadang hanya untuk mengobrol dengan teman-teman di dunia maya.

4. Kurang bersosialisasi

Walaupun namanya media sosial, justru tidak membuat remaja menjadi pribadi yang memerhatikan lingkungannya. Mereka hanya sibuk memerhatikan media sosial dan teman-teman dunia mayanya saja. Sering berinteraksi di dunia maya dan kurang berinteraksi di dunia nyata. Hal tersebut membuat remaja menjadi pribadi yang anti sosial.

Dampak Positif Media Sosial

1. Media Bersosialisasi

Beberapa aplikasi menawarkan fitur chat dengan membentuk grup seperti Whatsapp, Line, dan Telegram. Remaja bisa bersosialisasi dengan teman-teman alumni saat sekolah. Berbincang dengan teman-teman yang tinggal di tempat yang jauh. Media sosial dapat membantu mendekatkan yang jauh dan juga bisa menjauhkan yang dekat. Tergantung bagaimana remaja menggunakannya.

2. Komunitas Belajar

Dengan media sosial remaja bisa berkumpul di sebuah grup yang membahas tentang pelajaran di sekolah. Para anggota yang berasal dari seluruh Indonesia dapat membantu permasalahan remaja dalam kurang memahami pelajaran. Misalnya komunitas belajar bahasa inggris, fisika, kimia dan matematika. Tidak harus melakukan tatap muka, melalui aplikasi chat remaja bisa belajar sekaligus memanfaatkan teknologi

3. Menambah Pertemanan

Memiliki pergaulan yang luas memanglah menuntungkan. Melalui media sosial remaja bisa menemukan teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia, kira-kira, apa manfaatnya? Penulis akan menjelaskannya. Saat kamu ingin melanjutkan pendidikan perguruan tinggi di luar daerahmu, kamu memiliki teman di tempat yang akan kamu tuju. Sudah pasti kamu tidak tahu jalan menuju ke kampus tersebut bukan? Dengan bantuan teman di media sosialmu, kamu bisa menemukan kampusmu. Sebaiknya pilihlah teman yang terpercaya untuk kamu temui. Pastikan asal dan usulnya agar kamu tidak menjadi korban penculikkan, pemerkosaan, atau perampokkan.

4. Melek Teknologi

Di zaman sekarang ini memang dituntut untuk memahami teknologi. Jika tidak kita akan ketinggalan. Segalanya sudah berbau teknologi. Mulai dari pembayaran yang tidak dengan uang cash, membeli sesuatu hanya dengan menekan dan barang langsung datang, dengan sentuhan ujung jari kita bisa memesan tranportasi di rumah tanpa harus menunggu panas. Dengan teknologi remaja mudah menangkap pelajaran. Penjelasan yang kurang dipahami dari guru, mereka bisa dapatkan dari media sosial. Salah satunya komunitas belajar online.

Pada kenyataannya media sosial bukanlah sebab rusaknya pola pikir remaja. Menggunakan media sosial dengan baik akan mendapatkan dampak positif di dalam hidup remaja. Remaja sebaiknya mengatur diri dalam menggunakan media sosial. Tidak terlalu sering mengakses media sosial adalah cara pertama yang harus dilakukan remaja agar tidak kecanduan. Perbanyak melakukan aktivitas di dunia nyata yang bermanfaat. Misalnya, ikut dalam komunitas relawan atau organisasi keagamaan. Dengan begitu akan mendapat pergaulan yang lebih luas tidak harus dengan media sosial.

Peran orangtua sebagai alternative jika remaja tidak bisa mengatur dirinya. Orangtua harus memberikan perhatian besar kepada remaja dalam menggunakan smartphone. Melihat apa yang diaksesnya, apa yang di lakukannya dan melihat grup chatnya. Membiasakan remaja untuk menggunakan smartphone memang baik, tetapi orangtua harus mengontrol sendiri anaknya. Demikan dari penulis, semoga artikel ini dapat diterapkan dalam kehidupan pembaca. Salam kaum muda!

Tinggalkan komentar