Cerpen: Terpasung

Cerpen: Terpasung- Duniaku berada dalam ruang berukuran 3×5 yang berdindingkan biru kelabu tertutup debu. Debu itu senantiasa meracuni pernapasanku. Sudah 3 tahun ruangan ini tak terjamah oleh sapu dan kemoceng. Tak terbayang berapa sentimeter debu yang hinggap di ruangan ini ditambah lagi rajutan sarang laba-laba menjadi hiasan di sudut ruang ini. Sebelum aku masuk ke dunia yang menyedihkan ini, aku sering membersihkan ruangan ini bahkan mengecat ulang. Aku seperti terperangkap di dunia yang aku sebut rumah. Aku ini tersesat didalam rumahku sendiri. Hidupku begitu menyedihkan. Aku dibilang gila padahal aku tidak gila. Aku dihukum pasung padahal aku tidak berbuat salah. Dunia ini tidak adil bagiku.

Suara itu masih saja mengitari otakku mengganggu pendengaranku. Aku merasa seperti orang yang hilang kendali. Aku terus berteriak histeris di kamarku. “Pergi! Jangan ganggu aku. Jangan…” teriakku begitu mengelegar membuat orang-orang berada di rumahku semakin ketakut dengan keadaanku. Hingga mereka jarang mengunjungiku kecuali Ibuku yang setiap hari membawa makanan untukku. Hanya Ibu yang mengerti keadaanku.

Cerpen: Terpasung

Aku masih mengingat mengapa aku berada di ruangan ini, siapa yang membuatku disini. Aku tidak dendam, hanya saja aku ingin mereka mengembalikanku seperti sebelumnya. Waktu itu, aku masih ingat dengan kematian seorang Kakek yang rumahnya tidak jauh dari rumahku. Aku sangat mengenal Kakek itu karena setiap pulang sekolah aku melewati rumahnya. Rumahnya sangat tidak layak huni.

Tak pernah aku mendengar keluarganya datang menemuinya. Ayam dan bebek yang selalu menemaninya makan dan tidur. Semua warga kampung datang untuk mengurus jenazahnya. Aku ikut dalam mendoakannya agar dia di tempatkan di sisi yang Maha Kuasa. Setiap hari peringatan kematian Kakek itu, para warga mengelar acara pengiriman doa di rumah Pak RT karena sampai sekarang keluarga sang Kakek belum juga datang.

Kakek itu datang menghampiriku dengan wajah kasihan mengenakan baju putih bercahaya. Nampak dari raut wajahnya penuh dengan penderitaan. Seketika bulir air matanya membasahi pipinya. Dia menceritakan segala rahasia hidupnya padaku. Akupun tak sengaja menjatuhkan airmataku. Dia memintaku menyampaikan apa yang sudah disampaikannya kepada siapaun yang mempercayainya.

Aku memulainya dari Ibuku. Sayangnya Ibu tak merespon dan menganggap aku mengarang. Begitu juga Ayah ku, mereka sama saja. Aku memberanikan diri mengungkapkan semuanya kepada Pak RT. Dia menganggapku gila. Memakiku dan membentakku. “Dasar anak gila! Aku tidak percaya apa yang kau sampaikan. Kau menuduhku yang membunuh Kakek Sajiman? Apa buktimu?” suaranya membuat semua warga yang berada disekitar rumahnya melihatku dengan sinis. Aku bersikeras dengan perkataanku karena itu yang sebenarnya.

Mereka berbondong-bondong mengantarku ke rumah. Aku seperti pencuri yang di arak-arak keliling kampung. Pak RT memberitahu apa yang sudah aku katakan padanya. “Anak Bapak sudah gila. Dia menuduhku membunuh Kakek Sajiman. Dia bilang dia bertemu dengan Kakek itu dan Kakek itu memintanya untuk menyampaikan semuanya. Siapa yang percaya” Ayahku menatapku tajam. Aku tertunduk bersedih karena tak ada yang mempercayaiku. Ayahku menyergap tanganku dengan keras. “Anak Bapak di pasung saja.

Buat malu kampung kita” suara itu memprofokatori semua warga. Hingga akhirnya semua warga memintaku di pasung. Wajah Ibuku sangat sedih. Bagaimana ia bisa menerima anak kesayangannya di pasung. Ayahku menarik tanganku dan memasukkanku ke dalam kamarku seperti pencuri yang dijebloskan penjara oleh polisi. Aku menangis menjerit meminta dibukakan pintu. Tak ada yang mendengar tangisanku. Kakek itu mengahampiriku dan memelukku. Dia mengucapkan terima kasih dengan apa yang sudah aku lakukan. Aku menatapnya dengan kebencian. “Pergi! Ini semua karena kamu, Kek. Aku disangka gila. Aku dipasung disini. Jangan pernah minta aku menyampaikannya lagi. Pergi jangan kembali!” suaraku membuat Ayahku semakin marah dan mempercayai kalau aku gila.

Hari-hariku berubah. Aku tidak bisa kembali ke sekolah. Aku tidak dapat berinteraksi dengan teman-temanku. Aku tidak bisa melihat dunia luar karena jendela kamarku sudah di tutup. Duniaku sangat gelap matahari hanya sesekali singgah. Duniaku semakin kacau. Cita-citaku menjadi pelukis lenyap sudah. Semua karyaku ku letak di dinding kamarku. Hanya itulah yang aku lakukan setiap hari jika jenuh. Samar-samar aku melihat seseorang berdiri di depan pintu. Aku sangat takut.  Sudah lama mereka tak menghampiriku.

“Siapa kamu? Han..hantu..?” tanganku menunjukknya dengan gemetar.

“Saya Psikiater yang di kirimkan Ibu kamu” jawabnya tenang dan perlahan menghampirku.

“Saya tidak butuh kamu, siapapun kamu saya tidak butuh. Pergii!” teriakku histeris.

“Saya percaya kamu tidak gila. Kamu hanya di ganggu makhluk halus dan bisa mendengar suaranya. Saya pernah melihat Drama yang pemeran utamanya seperti kamu”

“Lalu?”

“Kamu mau menikah dengan saya?”

Duniaku seketika berubah. Dia membawaku ke duniaku yang sebelumnya. Aku tak menyukainya bahkan mencintainya. Aku hanya memandangnya sebagai orang yang mempercayaiku. Aku menikahinya hanya karna dia yang percaya padaku. Setiap hari aku menyiapkannya sarapan pagi, pakaian, makan malam dan menemaninya tidur malam. Dia begitu mencintaiku tapi aku tidak. Ada yang membisikkanku tentangnya agar aku menjauhinya. Aku sudah tak ingin mendengar suara-suara aneh itu. Psikiater itu mengatakan, jika aku ingin sembuh aku harus mengabaikan apa yang dikatakan suara itu.

Rintikkan hujan membuat halaman rumahku menjadi kolam-kolam kecil. Aku masih gelisah menunggunya di ruang tamu. Sesekali aku melihat keluar jendela dan melirik jam dinding. Tidak biasanya ia pulang selarut ini. Entah mengapa sekarang aku begitu mengkhawatirkannya. Sebelumnya aku tak peduli jam berapa ia kembali ke rumah, apa yang ia makan, bagaimaa dengan pasiennya. Mataku sangat lelah. Aku rebahkan badanku di atas sofa. Suara hujan sedikit redup tak sederas sebelumnya. Aku meninggalkan rasa kekhawatiranku lalu segera mengistirahatkan badanku yang seharian mengerjakan pekerjaan rumah. Begitulah tugas seorang istri, kata Ibuku.

Matahari bersinar dari ufuk timur. Aku masih di tempat dudukku dengan rasa khawatir yang semakin membara. Dia tidak kembali ke rumah dan tidak menelponku. Aku menghubunginya namun nomornya tidak aktif. Aku menlpon kantornya. Sungguh mengejutkan hatiku. Dia tidak masuk kerja selama 4 hari. hatiku bertanya-tanya kemana dia? Mengapa dia seperti itu? Mengapa dia membuatku sedih? Aku menghampiri rumah Ibuku. Aku memintanya untuk mencari jalan keluar. Aku tak bisa mengatasi problema rumah tanggaku sendiri. Aku sangat sedih karena aku tidak menjadi seorang istri yang baik aku tidak tau dimana suamiku berada.

“Ibu, bantu aku. Aku tak tau dimana suamiku berada. Apa aku benar-benar kehilangan dia?” aku menangis di pangkuan Ibuku. Aku benar-benar sangat kacau hari ini.

“Tenanglah, Nak. Mungkin dia ada urusan pribadi dan tidak mau kamu mengetahuinya. Kamu tau Psikiter itu orangnya misterius” Ibu berusaha menenangkanku.

Aku kembali ke rumahku. Aku membersihkan ruangan, menyiapkan masakan sembari menunggunya kembali. Aku membuat segelas teh hangat untuk menengkan fikirannku. Dia kembali! Ya benar dia kembali. Dia kembali dengan wajah lusu dan tatapan kosong. Aku mengambil tasnya dan membukakan sepatunya. Aku mengambilkannya segelas teh hangat, dia meminumnya lalu merebahkan badannya. Dengan sigap aku memijat tangannya berusaha membujuknya  untuk mengatakan alasan mengapa ia tidak pulang semalam.

“Mas, kamu mengapa tidak pulang?” tangannya menhempas tanganku. Ia beranjak dari sofa dan berdiri menatapku tajam. “Kamu kenapa? Sakit?” aku mengecek suhu badannya dengan meletakkan telapak tanganku di dahinya. Dia memelukku dan mengatakan merindukanku. Aku merasa dia sedang tidak sehat. Aku mengajaknya berbaring di kamar. Aku menemaninya tidur sambil mengenggam tangannya.

Dadaku terasa sesak seperti ada yang menimpa badanku. Mataku terbuka pelan-pelan. Terlihat samar-samar wajah yang tak asing di kehidupanku. Wajah seseorang yang pernah menyelamatkanku dari duniaku yang menyedihkan. Matanya menatapku keji. Dia seperti kerasukan setan. Tangannya mengenggam keras pisau dapur yang biasa aku pakai masak masakan kesukaannya. Pisau itu diarahkan ke leherku. Selama ini aku menikahi seorang monster berdarah dingin. Aku sangat takut. Aku tak bisa berteriak. Mulutku sudah di tutup dengan selotip.

“Aku harus membunuhmu…”

Aku mengeleng-geleng kepala sambil menangis. Aku memberontak dengan berusaha melepaskan diri dari badannya. Dia begitu kuat aku tak bisa mengalahi kekuatan seoramg pria berjiwa monster ini. Seketika pisau itu menghunus leherku. Aku tak bisa bernafas. Seketika wajah Ibuku terlintas. Kali ini air mata terakhirku terjatuh untuk Ibu. Dia masih belum puas menghunus leherku. Ia kembali menarik pisaunya dan memotong kaki dan tanganku. Jiwaku masih bersamanya. Aku melihatnya sedang asik memuntilasi tubuhku.

Tiba-tiba is tersadar dan menangis tiba-tiba. Ia menagisi tubuhku yang sudah terpotong-potong. Aku tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Jiwanya sangat terguncang. Ia membanting apa yang ada dihadapannya. Segala kertas yang berada di tasnya berhamburan.aku melihat sebuah kertas yang berisi tentang kesehatan jiwanya. Betapa terkejutnya aku kalu dia mengidap Skizofrenia. Aku melihatnya mengambil sebuah kotak lalu memasukkan tubuhku kedalam kotak. Lalu pergi begitu saja.

Ibu kini aku kembali terpasung, di sebuah kotak berukuran 2×2 berwarna cokelat. Aku tak tau aku dimana. Tolong aku Ibu, disini dingin aku tidak bisa merasakan kaki dan tanganku. Aku dibunuhnya. Dia lelaki berjiwa monster. Tolong aku Ibu.

Cerpen karangan: Elsa Dwitri

Tinggalkan komentar