Cerpen Sedih: Buku Diary Tempatku Mencurahkan kesedihan

Buku Diary Tempatku Mencurahkan kesedihan

Pada siang hari, 3 orang yang bersahabat bergegas untuk pulang ke rumah mereka masing masing, hari ini adalah hari terakhir ujian nasional, dan itu artinya sebentar lagi mereka akan lulus dari sekolah mereka. Saat ditengah jalan salah satu dari mereka membuat sebuah perbincangan. “Beberapa bulan ini, banyak orang yang meninggal ya,” kata Novita.
“Ia kau benar Nov, bagaimana ya kalau aku meninggal nanti?” Tanya Tika
“Jangan bilang gitu dong Tik, ya pastinya kalau kamu meninggal aku akan menangis sampai air mataku habis,” kataku.
“Ia deh, trus kalau Tavita yang meninggal gimana?” tanya Tika.
“Aku akan tertawa sekeras mungkin hahaha,” kata Novita sambil tertawa.
“Ya aku juga sama hahaha,” kata Tika yangbjuga tertawa.
Aku hanya tersenyum terpaksa saat itu.

Cerpen Sedih: Buku Diary Tempatku Mencurahkan kesedihan

Sabtu, 20 April 2013
Dear Diary
Hari ini aku benar benar sedih dengan jawaban teman temanku, ya aku tahu kalau mereka bercanda, tapi menurutku itu serius.

Tanganku berhenti menulis dan air mataku mulai berjatuhan diatas kertas buku diary ku. Nafasku tidak teratur aku langsung mengambil obat semprot untuk mengurangi sesak nafasku.

Setelah beberapa hari, saat itulah hari kelulusan. Aku mendapat nilai tertinggi dikelas. Aku menunggu orangtuaku namun mereka tidak datang, aku lari ke kelas Novita dan menemuinya, aku ingin memberi ucapan selamat padanya, aku sudah ada didepannya namun ia mengacuhkanku, dia langsung pergi bersama dengan orangtuanya.
Selanjutnya aku pergi ke kelas Tika, aku mencarinya namun ia tak ada disana, aku bertanya pada teman kelasnya dan mereka bilang kalau Tika sedang sakit.

Saat perjalanan pulang aku berencana untuk menjenguk Tika saat aku ada didepan pintunya dan aku mengetuk pintunya, Tika membuka pintu dan melihatku. Tika terlihat terkejut dan langsung membanting pintu didepanku. Air mataku langsung mengalir saat itu, aku langsung berlari menuju rumahku.

Sabtu, 27 April 2013
Dear Diary
Hari ini bahkan lebih parah dari minggu lalu, mereka mengacuhkanku, orangtuaku juga tidak datang ke sekolah untuk menerima piagamku. Kenapa hal ini terjadi padaku, kenapa mereka tiba tiba mengacuhkanku seperti ini.

“Hiks hiks” air mataku terus mengalir, mataku mulai memerah namun aku tak bisa berhenti menangis “hiks hiks” sesak nafasku juga semakin parah, obat semprot ku sudah habis, aku tak bisa berbuat apa apa, aku merasa aku akan mati, dan mataku tertutup, aku pingsan.
Saat aku membuka mataku aku melihat orangtuaku ada disampingku. Ternyata saat aku pingsan tadi, orangtuaku menemuiku dan langsung mengantarku ke rumah sakit. Itu adalah saat saat yang menegangkan dalam hidupku.

3 tahun kemudian, 2 hari sebelum hari kelulusan aku mengirim pesan kepada Tika dan Novita lewat Whatsapp, Massanger, dan lewat SMS, namun mereka tak membalasnya samasekali.

Kamis, 21 April 2016
Dear Diary
Aku tahu, mereka tidak menginginkanku lagi, namun aku ingin tetap bersama mereka, aku ingin kami menjadi seperti dulu lagi yang sering tertawa bersama sama. Ya, aku memiliki teman baru disini, namun itu tak akan sama dengan persahabatanku yang dulu. Aku harap aku bisa bertemu dengan mereka untuk terakhir kalinya.

Tiba saatnya, yaitu hari kelulusan. Alarm ku berbunyi sampai lima menit namun aku tidak bangun sampai salah seorang teman sekamarku Alvia membangunkanku.
“Tavita, ayo bangun, kau tak ingin terlambat dihari kelulusankan,” mendengar suara Alvita aku langsung terbangun dan belari ke kamar mandi, “Maaf Alvia!!” kataku saat berlari ke kamar mandi.
“Ya, hati hati atau kau akan terpeleset nanti,” kata Alvia memperingatkanku.
“Aduh” tepat seperti yang dikatakan Alvia, aku tak berhati hati dan terpeleset. Alvia hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Pukul 10.00 WIB, bel berbunyi dan kami semua berbaris di lapangan. Orangtua siswa dipersilahkan untuk masuk ke barisan dan mendampingi anaknya masing masing. Kecuali aku, orangtuaku harus menghadiri hari kelulusan adikku, sama seperti 3 tahul lalu. “Aku tak pernah beruntung dihari kelulusanku,” pikirku.
“Baiklah bapak akan membacakan nama murid yang berprestasi, yang namanya dipanggil, silahkan maju keatas mimbar.” kata seorang guru yang juga merupakan wakil kepala sekolah di sekolah kami.
“Murid yang mendapat nilai tertinggi di bidang akademik yaitu Tavita Meldiana, silahkan naik keatas nak,” lanjutnya.
Aku terkejut dan langsung berlari kedepan.
“Dimana orangtua mu Tavita?” tanya Pak Mulyadi.
“Mereka tidak datang pak,” kataku sambil menundukkan kepalaku.
Pak Mulyadi tersenyum dan memberi semangat padaku, juga memberi penghargaan berupa piagam kepadaku.
“Terima kasih pak,” kataku sambil tersenyum kepada semua orang disana.

“Duar…” terdengar sebuah suara tembakan yang membuat semua orang panik. Bahkan guru guru yang tadinya duduk tenang sekarang berlarian sampai mendorongku jatuh dari atas mimbar. Kepalaku terluka dan penglihatanku menjadi buram, aku berjalan tak tahu kemana, orang orang mendorongku, dan aku kembali terjatuh, aku tak bisa berdiri lagi, tak ada yang memperhatikanku sampai aku diinjak injak oleh mereka yang ada disana. Salah satu tanganku tak bisa digerakkan, salah satu kakiku juga terluka, dan aku hanya bisa berjalan dengan keadaan pincang. Aku tak tahu kemana arahku berjalan dan aku bertemu dengan seorang pria yang memegang senjata, orang itu panik dan langsung menembakkan pelurunya tepat di dadaku, aku terjatuh. Darahku mengalir sampai mewarnai seragamku yang berwarna putih menjadi warna merah. Nafasku kembali tidak teratur, sakit yang begitu dalam hingga aku tak bisa bergerak, dan akupun kehilangan kesadaran.

Aku membuka mataku, sudah dua hari aku tidak sadarkan diri, seluruh ruangan itu berwarna putih, aku yakin ruangan ini adalah rumah sakit. Sama seperti 3 tahun lalu, yang berbeda hanyalah orantua ku tidak ada disini. Aku melihat buku diary ku ada diatas meja saat itu, aku langsung mengambilnya walau itu akan membuatku terbunuh dan aku menulis :

Senin, 25 April 2016
Dear Diary Cerpen sedih


Kali ini aku berada dirumah sakit lagi, seperti 3 tahun lalu. Aku selalu sial dihari kelulusan. Aku sudah putus asa, akan lebih baik jika Tuhan mengambil nyawaku sekarang juga. Dan aku berharap ketika hari kematianku nanti Tika dan Novita datang dan melakukan apa yang mereka katakan sebelumnya, yaitu tertawa sekeras mungkin.
Salam terakhirku Tavita Meldiana

Aku langsung kehilangan kesadaran, aku melihat sebuah cahaya yang panjang, dan akupun sadar bahwa aku sudah pergi dari duniaku. Aku masuk ke cahaya itu, dan betapa terkejutnya aku, aku melihat diriku terbaring dirumahku, aku melihat orang orang mengerumuniku dan aku melihat ibuku yang sangat sedih akan kepergianku. Aku mencari seseorang, yaitu Tika dan Novita, aku mencari, dan terus mencari namun mereka tak ada untuk melihatku yang sudah pergi untuk selamanya. Bahkan sampai penguburan dan pengucapan doa mereka sama sekali tidak datang. Aku sudah tidak punya banyak waktu lagi dibumi, akupun pergi untuk selamanya dari mereka yang menyayangiku.

Karya: Aulia Theresia


About the Author: khavidin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *