CERPEN PERSAHABATAN DI RUMAH MISTERIUS

0 8

PERSAHABATAN DI RUMAH MISTERIUS

Hai aku Anita, aku mempunyai sebuah kelompok persahabatan namanya DSDAS. nama tersebut berasal dari awalan nama kami masing masing, yaitu: Devi, Silvia, Desi, Anita, Serlin

Kelompok ini adalah kelompok bernyanyi kami, tapi kadang kami sangat penasaran tentang misteri, bahkan kami pernah sampai mendatangi tempat tempat misterius itu. Tapi kami tidak hanya berlima jika ingin mendatangi tempat tempat misterius itu, kami ditemani oleh kakak kami yaitu kak Eric (kakakku), kak david (kakaknya Devi dan Desi), dan kak Gilbert (kakaknya Silvia).

Hari ini adalah hari menjelang liburan musim dingin, karena itu kami berdiskusi dan dan memutuskan untuk pergi ke tempat tempat lainnya.

PERSAHABATAN DI RUMAH MISTERIUS

Sebelumnya kami pernah mendengar tentang sebuah rumah misterius dihutan dekat sekolah kami, hutan itu tidak pernah dimasuki oleh orang orang karena misteri dari rumah yang ada didalam hutan itu, dan pohon pohon disana sangat lebat, sehingga sinar mataharipun tak bisa masuk kedalam hutan. Kami akan menelusuri tentang rumah dan juga hutan itu malam ini, sebelumnya kami harus meminta ijin kepada orangtua kami terlebih dahulu.

Setelah meminta ijin keluar malam ini, kami langsung menyiapkan peralatan seperti : senter, p3k, tali, tenda (jika ingin bermalam), camilan, dan peralatan lainnya. Dan kami berkumpul dirumahku malam ini.

Malam pun tiba, teman temanku datang dan mengetok pintu
“Selamat malam tante” kata silvia pada ibuku.
“Selamat malam juga dek” kata ibuku.
“Anita nya ada gak tan” kata silvia.
“Ada kok dek masuk aja dulu” kata ibuku.
“Gak usah tan, lain kali aja, soalnya keburu makin malam nantinya tan” kata silvia lagi.
“Oh, ia dek gapapa kok” kata ibuku lagi, “Anita Eric teman temanmu sudah datang”
“Ia ma” kataku dan kakakku bersamaan sambil turun menemui mereka.
“Ayo, kita pergi.” kata kakakku pada semuanya.
“Kami pergi dulu ya bu” kataku sambil melambaikan tanganku kearah ibuku.
“Ia sayang hati hati ya” kata ibu.

Sesampainya dihutan, memang sangat gelap sekali, tapi aku tak merasa takut sekalipun, karena aku tagu Tuhan selalu besertaku. Kami sampai ditengah tengah hutan, dan disana ada rumah yang sangat menyeramkan dan tampak tua.

“Apa ini rumahnya?” kata Serlin agak ketakutan melihat rumah tersebut.
“Mungkin ia” kataku.
Kami memasuki rumah tersebut, tidak lupa kami mengambil kamera untuk bukti. Lalu tiba tiba pintunya tertutup dengan rapat. Semuanya menjadi panik kecuali aku, aku melihat pintu tersebut dan ternyata ada sebuah tombol yang bisa membuka dan menutup pintu tersebut.

“Mau apa kalian kesini” kata seorang wanita berambut panjang yang wajahnya putih pucat karena tidak pernah terkena sinar matahari.
Semua nya ketakutan dan aku memberanikan diri untuk bicara
“Maaf nona, kami masuk kesini tanpa ijin” kataku.
“Kalau begitu pergilah atau kalian tak akan pernah kembali kerumah kalian lagi.” kata wanita itu sambil berbalik menjauhi kami.
Seketika aku merasa ketakutan dan ingin pergi, tapi aku melihat wanita itu menangis dan akupun mendatanginya.
“Siapa namamu? Kenapa kau menangis?” kataku sambil menenangkannya.
“Namaku Anabel, aku kesepian disini” katanya.
“kalau begitu Anabel kenapa kau mengusir kami dari sini?” kataku lagi.
“Jika aku tidak mengusir kalian maka kalian akan membongkar tentang rahasiaku pada semua orang, dan orang orang akan mengusirku dari rumah ini” kata nya.
“Tenanglah kau tak akan diusir dari rumah ini kami tak akan memberitahu kepada siapapun oke. Tapi apa kau mau menjadi temanku?” kataku sambil memberikan senyuman padanya.
“Apa maksudmu nit kita sudah susah payah kesini dan kau tak…” Ucapan Serlin terputus.
“Sudahlah ser, yang dilakukan anita itu benar.” Kata Silvia menyela ucapan serlin.
“Apa kau mau menjadi temanku?” tanyaku lagi.
“Ia, tentu. Aku mau, dan aku juga akan membantu kalian. ” kata Anabel.

Esoknya kami pergi lagi ke hutan tersebut dan menebang pohon pohon yang sudah tua dan menggantinya menjadi pohon yang muda. Tidak lupa Anabel juga membantu kami dalam melakukan semua itu.

“Anabel kenapa kau tidak menunjukkan dirimu kepada semua orang saja, mungkin mereka akan menerima mu” kata Silvia.
“Ia apa kata Silvia itu benar bel kalu kamu gak perlihatkan dirimu sama orang orang disini, kamu bisa aja semakin terusir” kataku membenarkan ucapan Silvia.
“Baiklah jika itu dapat memberi hal positif bagi kehidupan disekitar sini aku akan melakukannya” kata Anabel.

Kemudian Anabel menunjukkan dirinya kepada semua orang dan menceritakan segalanya tentang hutan itu, bahwa Anabel bukan hantu yang selama ini ditakuti semua orang, mitos tentang hutan tersebut pun hilang. Dan hutan tersebut sering menjadi tempat rekreasi dan tempat perkemahan bagi siswa siswi sekolah kami.

~Tamat~

by: aulia theresia

Leave A Reply

Your email address will not be published.

15 + = 23