Cerpen Kehidupan ” Cerita Sedih Kehidupan Via”

0 12

Cerpen kehidupan- Hujan turun dengan derasnya di daerah ibukota Jakarta, namun tak menyurutkan para pencari kehidupan untuk berlalu lalang.
Di emperan pertokoan yang sedang tutup, terlihat seorang pria paruh baya yang sedang memperhatikan seorang wanita yang baru saja keluar dari Bank. Kedua netra lelaki itu awas sambil sesekali menghisap rokok ditangannya.

Cerpen Kehidupan ” Cerita Sedih Kehidupan Via”

Saat wanita tersebut berjalan ke arah mobilnya lelaki tersebut juga ikut beranjak sembari membuang puntung rokoknya, kemudian menghampiri wanita itu.
Mengetahui sang wanita tidak waspada, dia pun merampas tas yang berisi lembaran pecahan uang seratus ribu, kemudian berlari secepatnya.

“Copet … Tolong ada copet …,” teriak wanita itu.
Mendengar teriakan itu, beberapa pejalan kaki menghampirinya.

“Copetnya lari ke arah mana bu?” tanya seseorang berbaju biru.
“Ke sana, ke arah jalan raya, cepat pak!”
Mereka lalu berlari di tengah hujan yang mulai mereda.
Tak jauh dari situ, si pencopet yang tengah panik terus berlari ke arah jalan raya. Saat hendak menyebrang tiba-tiba …

Brukhhh…

Baca Juga: Kisah kehidupan: dinda sang wanita shalihah

Sebuah mobil hitam menabrak tubuhnya dan terpelanting beberapa meter di bahu jalan, seketika darah mengucur dikepala menyatu dengan rintik hujan. Semua orang yang mendengar suara tabrakan itu kemudian berlari ke arah tempat tersebut.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun” kata seorang lelaki.
“Dia sudah meninggal!” ucap pria bertubuh gempal.
“Siapa suruh mencopet” umpat pria jangkung.

Di lain tempat, dengan hati yang cemas, seorang wanita sedang menunggu suaminya pulang.
Besok adalah hari ulang tahun anak mereka, Via yang berusia 5 tahun.

“Bu, bapak kok belum pulang?” tanya Via sembari duduk di dipan reot satu-satunya milik mereka.
“Mungkin bapakmu masih kerja Via, bapak kan mau beliin kamu hadiah,” jawab ibunya yang berusaha menutupi kecemasan hatinya.
“Oh iya yah bu, pasti bapak beliin aku mainan kayak punya si Mela anak orang kaya itu.”
Via teringat kata bapaknya ketika bapaknya akan pergi keluar bahwa dia akan di belikan mainan yang bagus.

Saat sedang bersenda gurau, seseorang mengetuk pintu yang terbuat dari bambu di rumah itu.
“Tok … Tok … Tok, assalamualaikum,” ucap seseorang.
“Waalaikumussalam” ibu Via berjalan ke arah pintu, lalu membukanya.
“A- anu bu, pak Adi!” orang tersebut gelagapan.
“Iya, suami saya kenapa Ijal?” tanyanya.
“Pak Adi, pak Adi kecelakaan bu!, kata orang ditabrak mobil waktu nyopet!” tutur Ijal.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, kamu pasti bohong, kan Jal?” ibu Via terperanjat tak percaya.
“Saya beneran bu, jenazahnya lagi mau di bawa ke sini! Lanjut Ijal “kalau begitu, saya pergi dulu mau bilang ke tetangga,” Ijal pun berlalu.

“Ma, bapak udah pulang yah?” tanya Via tak mengerti.
“Iya sayang, bapakmu sudah pulang,” kata ibunya sambil mengusap air matanya.
“Yeay, bapak pasti bawa hadiah!” teriaknya girang.

End

Leave A Reply

Your email address will not be published.

20 + = 27