Cerpen Cinta Sedih Yang Berjudul “Inikah cintaku”

0 8

Tubuhku terasa pegal untuk beranjak dari pembaringan. Mereka memaksaku untuk tetap pada posisi terlentang menatap asbes yang semakin pudar warnanya. Hari ini hasratku ingin bermalas-malasan, ingin tidur satu harian. Pokonya, aku ingin di kamarku ini saja. But.. aku harus menemui seseorang yang sudah menunggu di tempat yang sudah kami janjikan jam 10 nanti. Ku hela nafas panjang lalu bangkit dan berjalan lunglai menuju kamar mandi. Aku mempersiapkan diri untuk menemuinya.

Jam terus berdetak jarum masih stay di angka 9. Sebentar lagi!
Ku habiskan 1 jam untuk membenahi diri dan kamarku yang seperti pasar tradisional. Jorok! Aku memang jarang membersihkan kamarku. Terakhir kali aku membersihkan kamarku mungkin sekitarku 2 minggu yang lalu. Waktuku selama 6 hari penuh dengan aktivitas di luar kamar.

Kuliah pagi, kerja siang pulang malam. Malam tidur, pagi berangkat ke kampus. Begitulah rotasi kehidupannku. Mencari ilmu dan memburu Dollar. Kecuali hari minggu. Hanya waktu itu saja yang aku miliki untuk beristirahat dan terbebas dari 3 aktivitas wajibku. Namun, aku harus meluangkan waktuku yang satu hari ini kepadanya. Dan itu harus. Aku lelah!

“Kamu telat dua menit sebelas detik…” Ketus lelaki yang duduk di depan jendela cafe. Matanya menatapku sinis. Tangannya terlipat sombong di dadanya yang kekar. Aku pasrah karena cinta.
“Maaf, Sayang! Kamu taukan pekerjaanku banyak. Waktuku cuma ada hari minggu. Baju kotorku sudah numpuk dan…”

“Ahhh! Alasanmu selalu begitu. Satu minggu penuh dengan pekerjaan. Aku juga kerja. Tapi aku selalu ngasih kamu waktuku. Kamu? Kamu apa? Kuliahlah, kerjalah, capeklah, maaflah. Aku bosan!” Bentaknya dengan keras menusuk hati. Wajahnya tak ingin menatapku seolah aku ini bukan siapa-siapa baginya. Ia menghembuskan nafasnya. Meraih tas dan helmnya. “Aku rasa cukup sampai disini. Cinta juga butuh waktu bukan uang…”

Dia berlalu meninggalkan sebuah cinta tulus yang berdiri di depannya 5 menit yang lalu. Meninggalkan hati yang telah dicaci. Meninggalkan wajah untuk dipermalukan. Semua mata pengunjung tetuju padaku. Aku malu! Aku beranjak dari cafe itu sambil berlari diiringi airmata kebencian. Entah kemana aku harus melangkahkan kaki. Aku tak ingin kembali ke kamarku. Tak ingin! Perasaanku dihancurkan oleh lelaki bajingan itu. Sejauh ini aku korbankan waktu berhargaku untuknya. Namun aku tak berarti baginya.

Tapi selalu saja dikomplain. Aku bingung aku pasrah dan aku lelah. Kepalaku sempoyongan seperti pemabuk. Pandanganku buyar aku tak dapat melihat dengan baik. Kepala ini terasa berat. Aku tak peduli ku teruskan perjalanan tak berujung ini dan…

Dimana aku? Mengapa aku bisa disini? Ada apa denganku? Pertanyaan itu muncul di kepalaku. Aku berusaha bangkit. Tapi tak bisa! Kepalaku tersa berat. Aku tak bisa berdiri. Badanku sangat lemah.
“Wah! Sudah sadar. Syukurlah, aku fikir kau mati. Nih, makan dulu…” Dia membawaku segelas air dan sepiring nasi. Siapa dia? Laki-laki atau perempuan? Gayanya seperti laki-laki namun ciri khas wanita nampak didirinya.

Jangan-jangan aku diculik. Tidakkkkkk!
“Tenang saja. Aku tidak akan menculikmu. Aku akan mengantarmu pulang” meneguk segelas teh di meja yang asapnya mengepul tipis.
“Darimana kamu tau tentang fikiranku?”
“Dari cara penampilanku. Semua orang berfikir kalau aku itu jahat. Sebenarnya aku tdak seperti yang meraka fikirkan. Kalau aku jahat, mungkin aku takkan membawamu yang terkapar di pinggir jalan untuk bantu ke rumahku. Malah mereka yang jahat, mereka sama sekali tak memperdulikanmu.” Dia tersenyum kepadaku. Aku tak mengerti arti senyuman itu

Benar juga apa yang dia katakan. Fikiranku tak lagi buruk padanya setelah dia menceritakan sebenarnya. “Namaku Friska…” aku mengulurkan tanganku
“Aku Dena. Tapi panggil aja Den. Bahkan aku lebih suka dipanggil Aden.” Dia menyambut uluran tanganku “Sebentar ya, aku tinggal dulu. Ada urusan penting.”
Aku menganggukkan kepalaku.

Dena seorang perempuan berpenampilan laki-laki. Dia sama seperti temanku waktu SMA. Mereka menjulukinya Gadis Tomboy. Dena muncul disaat aku benar-benar membutuhkan seorang teman. Dena gadis mandiri yang mampu hidup bedikari dengan usahanya sendiri. Buktinya rumah ini, ia tinggal disini sendiri dengan rumah yang tertata rapi. Beda denganku yang masih mengharapkan uamg orangtua untuk biaya hidupku. Mataku menelusuri kamarnya yang bersih bernuansa merah. Mataku terfokus pada dinding depan yang bergamabar logo club sepakbola liga inggris. Manchester United. Ya! Walaupun aku perempuan aku sedikit tau tentang bola. Hanya saja tak sefanatik Dena.

“Rumah ini adalah harta warisan orangtuaku. Orangtuaku sama sekali belum meninggal. Hanya saja mereka mengurusi bisnis keluarga. Sesekali mereka keluar kota bahkan keluar negeri. Aku ingin diperhatikan. Tapi mereka tak bisa. Lebih baik aku hidup sendiri dan mandiri. Kita sama-sama jauh dari orangtua. Jadi kita bisa saling paham dengan perasaan kita” Jelasnya dengan pandangan lurus ke depan. Menatap dinding yang kokoh. Lalu dia menatapku dan tersenyum. Tanganku tanpa sengaja membelai pipinya. Aku tersentak dan gugup. Astaga! Dia Dena. Dia sahabatku. Tak akan aku menyukainya. Apalagi dia perempuan.
Tak terasa! Setengah tahun aku sudah bersamanya sebagai seorang sahabat. Dia benar-benar paham dengan kehidupanku yang super padat. Aku begitu nyaman dengannya. Entah apa yang membuatku betah dengannya. Dia selalu ada buatku. Setiap hari aku selalu dijemputnya di kampus, diantar ke tempat kerjaku, menjemputku pulang kerja. Dia begitu perhatian!

Kring…Kring…Kring…
“Iya Dena? Aku lagi di Kampus. Ada kelas, nih. Ada apa?” tanganku sibuk mencari buku didalam tasku yang kuletakkan diatas bangku taman Kampus.
“Bisa kerumahku?” Suaranya tampak seperti orang yang baru saja menangis. Aku terkejut dan shock.
“Kamu kenapa? Siap kelas ya? Aku mau presentasi, Den…”
“Aku butuh kamu sekarang!” Desaknya
“Oke, kamu tunggu di situ ya, aku datang kok. Jangan kemana-man…”
Tut…tut…tut

Tanpa aku sadari aku korbankan jam kuliahku untuknya. Ini pertama kalinya aku absen. Aku tak pernah melakukan ini sebelumnya kepada orang lain. Aku melaju dengan kecepatan tinggi. Aku khawatir dengan Dena. Aku takut dia nekad seperti sebelumnya. Ia hampir melakukan percobaan menenggak racun. Untung saja temannya memergokinya dan memberitahukannya kepadaku.

Ku ketuk pintunya dengan rasa cemas. Aku takut Dena terluka. Pintu itu terbuka. Dena menarikku ke dalam dan menutup pintu itu kembali lalu menguncinya. Ada apa ini? Ia langsung memelukku dari belakang. Badannya jauh lebih tinggi dari aku. Aku hanya sedadanya. Dia memelukku begitu erat. Dagunya bersandar di pundakku. Hembusan nafasnya mengalir ke leherku. Darahku mendesir , keringatku bercucuran. Aku hanya menalan ludah dan tak bisa berkata apa-apa. Mungkin ini keinginannya sehingga ia mendesakku untuk datang ke rumahnya.
“Aku lelah, aku ingin tidur. Bawa aku ke kamar. Temani aku tidur.” Bisiknya ke telingaku. Aku menuntunnya ke kamar. Mungkin sesuatu terjadi padanya sehingga dia merasa terbebankan dan butuh seseorang. Begitulah yang dibenakku.

Rumah ini begitu dingin. Padahal AC telah dimatikkan. Badan dena juga begitu dingin. Ia meneteskan airmatanya saat ia tertidur. Aku juga ikut larut dalam tangisannya. Aku berbaring di sampingnya dan mengusap rambutnya. Mataku lelah dan mulai terpejam.

Tubuhku terasa di lem. Ku tak mampu bergerak. Tubuhku terkunci. Terkunci dipelukan Dena. Dena menatapku dan mengelus rambutku. Aku merasa risih. “Aku sangat menyayangimu lebih dari apapun…” ujarnya dengan senyum lebar dipipinya. Dengan sigap Dena langsung melahap bibirku. Mendekap tubuhku dan bergumul dengan nafsunya. Aku kalah! Dena jauh lebih kuat daripada aku. Dia terus melakukannya serasa ingin muntah saja. Setega inikah dia melakukannya padaku? Aku tak paham dengan kepribadiannya. Apa ini yang disebutnya cinta? Entahlah! Kali ini aku kalah dengan kaum sejenisku. Airmataku menetes kembali. Bukan tangisan kasihan atau tangisan kasih sayang melainkan airmata kekecewaan.

“Iska? Kamu kenapa? Sakit?” Dena menghentikan perilaku menjijikkan itu.
“Aku tak sangka kau seperti ini. Apa memang kau ini…”
Dena memelukku lagi tanpa menciumku “Maafkan aku! Aku terlalu mencintaimu sampai aku tak memikirkan siapa kamu. Aku memandangmu seperti seorang yang pantas untuk aku miliki dan aku cintai, bukan seorang sahabat. Aku mohon jangan tinggalkan aku…”
Duarrrr!

Jantungkku berhenti. Aku tak mampu menerima kenyataan ini. Selama setengah tahun Dena menyembunyikkannya semuanya. Aku mengenalnya sebagai sahabat dan wanita yang mampu berdikari. Tapi, kepribadiannya menyeleweng. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Aku ingin meninggalkannya namun aku menyayanginya. Haruskah aku bertahan dengan cinta sesama jenis ini? Bagaimana jika aku pergi meninggalkannya? Atau apakah aku harus seperti dia?

Dena Luvita, seorang gadis yang tumbuh sebagai wanita seutuhnya. Dena sangat dikagumi banyak pria di sekolahnya. Hanya saja pada saat itu ia tak ingin merasakan yang namanya Cinta. Karena menurut orangtuanya diusianya yang masih muda belum boleh merasakkan cinta. Dena harus fokus belajar. Semua ini berawal pada pengkhianatan cinta diantara kedua orangtuanya. Tapa sengaja ia melihat sang ayah sedang bercumbu dengan seorang pria. Dena tak salah melihatnya. Karena pada saat itu dialah yang menghantarkan makanan ke kamar mereka. Dena mulai membenci laki-laki. Ia tak ingin mengenal laki-laki apalagi dicintai laki-laki Hingga saat ini Dena tumbuh dengan kebencian pada Gender laki-laki sehingga mengharuskannya mencintai wanita. Lalu sampai kapan kau akan terus begini?

Leave A Reply

Your email address will not be published.

1 + 1 =