Cerita Inspiratif Dari Mas “Abraham

Cerita Inspiratif Dari Mas “Abraham

Cerita Inspiratif

“Nama saya memiliki arti kebaikan, tapi mengapa orang-orang menganggap saya jahat?”

-Abraham, 2011

***

Udara panas siang ini menusuk hingga ke tulang. Aku berteduh di toserba pinggir jalan sambil menunggu angkutan umum.Keringat dikeningku mengalir ke pipi. Ku seka peluhku dengan jari. Tengju terasa kering. Diungkapkan ada penjual es doger yang begitu mengoda. 

Tak terbayangkan seginya pun berwarna merah muda itu mengalir ke tenggorokanku. Ku putuskan untuk membeli segelas es doger. Tak kuitung teman-temanku yang sedang menunggu kedatanganku. Suara panggilan dari ponselku terus berdering. Berkali-kali.Dan aku tetap tak peduli.

 

Cerita Inspiratif Dari Mas “Abraham

 

“Pak, es dogernya segelas…” aku duduk di sebelah seorang lelaki yang tubuhnya penuh tato, telinga penuh dengan anting, celana jeans ketat, gitar menggantung di punggung dan gelang beraneka bentuk melingkar di pergelangan tangannya. Aku merasa risih dengan penampilannya.

“Panas ya, Mas?” lelaki itu bertanya padaku.

“Iya, Mas. Dua minggu sudah tak turun hujan.” Ada rasa curiga dihatiku melihat gelagat lelaki itu. aku memindahkan arah tasku yang tadinya di samping ke pangkuanku. Melihat sikapku seperti itu, lelaki berambut gimbal itu hanya tersenyum.

“Tenang, Mas. Saya cari rezeki halal kok. Saya gak suka mengambil milik oranglain.” Pesanan es sudah datang. Hanya ada satu gelas saja. aku merasa tak enak hati telah mencurigai lelaki itu. Kubelikan es untuknya sebagai permintaan maafku.

“Pak, satu lagi ya?” si penjual mengangguk. Berlalu menuju gerobaknya. “Maaf ya, Mas saya udah curiga sama, Mas.” Es pesananku telah siap untuk di teguk.

Ku raih lalu ku berikan kepada lelaki itu. “Ini, Mas. Sebagai permintaan maaf saya.”

“Wah! makasih banyak ya, Mas. Tau aja lagi haus.”

Semakin lama aku merasa penasaran tentang dirinya. Dari sifatnya yang ramah, aku percaya dia orang baik-baik walaupun penampilannya awut-awutan dan tak sedap di pandang. Ada proses panjang dibalik penampilannya sekarang.

“Sebelumnya, perkenalkan namaku Hamzah…” aku mengulurkan tangan ke arahnya.

“… Abraham, Mas. Panggil aja Abra.” Dia membalas uluran tanganku. “Saya udah biasa, Mas dicurigai jadi pencopet, penyabu, suka bikin onar. Malah saya selalu jadi kambing hitam.”

“Gimana ceritanya?” aku kaget

“Saya biasa ngamen disekitaran jalan sini. Jadi ada temen saya yang lagi transaksi narkoba. Barang tadi itu di sembunyiin di rumah makan. Besoknya, saya lagi asik ngamen saya malah digebukin. Gak tau apa salah saya…”

Aku tak sampai hati mendengar kisahnya. Gelas milik Abra sudah kosong. Ia meletakkan di ember milik penjual. Es di dalam gelasku masih berisi setengah.

“Turut prihatin ya, Mas. Saya ngerti perasaan, Mas.”

“Saya juga gak mau seperti ini, Mas. Saya merasa hidup saya telah gagal. Seandainya saya mengikuti apa yang ibu saya sarankan, mungkin saya tidak akan seperti ini…” dia terdiam.

Wajahnya tertunduk lesu. “Saya termasuk siswa yang pintar saat SMA. Keinginan saya untuk kuliah hukum sangat kuat. Tetapi, biaya untuk perkuliahan tidak ada. Ibu saya menyarankan untuk mengurus kebun di kampung.

Saya menolaknya dengan alasan petani bukan cita-cita saya. Keinginan saya begitu kuat untuk menjadi pengacara. Sampai saya mendesak Ibu agar menjaul kebunnya demi saya kuliah hukum. Padahal saat itu sedang gagal panen.”

Aku meletakkan gelas kosong milikku ke ember milik si penjual. Ku keluarkan uang lima ribuan dua lembar dari saku lalu ku berikan pada penjual doger. “Terus, Mas jadi kuliah?” tanyaku

“Iya, tapi hanya sampai semester 5. Setelah itu keuangan Ibu telah merosot. Setengah kebun kami gagal panen. Terpaksa saya berhenti kuliah karena saya malu untuk cuti. Saya merasa tertekan dan depresi. Hingga teman SMA mengajak saya untuk main dengan teman-temannya.

Saya juga tidak percaya dia gabung dengan anak punk. Padahal dulu dia sangat baik dan tidak pernah berbuat onar di sekolah. Sejak saat itu saya berubah. Saya tak mau pulang membantu kebun Ibu. Difikiran saya hanya ada kesenangan dan kebahagian saya sendiri. Tak memikirkan keluarga saya di kampung.”

“Bagaimana dengan Ayah kamu, Mas?”

“Sejak kecil saya tak punya Ayah dan jika pun ada, saya tak akan mengakuinya.” Aku tak ingin bertanya lebih banyak tentang bagaimana ayahnya meninggalkannya. Keinginanku hanya sekedar tau kisah dibalik penampilannya.

“Lalu kenapa, Mas tidak mengunjungi Ibu di kampung?”

Dia terdiam sejenak. Matanya berbinar. Dia berusaha menahan airmatanya yang akhirnya menetes juga. Jarinya menyeka perlahan “Sampai sekarang saya merasa bersalah. Saya belum meminta maaf dengan Ibu. Bahkan, diakhir hidupnya saya tak melihat wajahnya.

Mungkin ini akibat dari kelakuan saya pada Ibu. Saya jadi menderita seperti sekarang…” wajahnya tertunduk. “ Nama saya memiliki arti kebaikan, tapi mengapa orang-orang menganggap saya jahat?

Allahu akbar…allahu akbar

Suara adzan ashar berkumandang. Abra sepertinya bersiap-siap untuk pergi. Aku memerhatikannya membersihkan tangannya di ember berisi air bersih lalu mencuci wajahnya. “Ayo, Mas. Berjamaah di masjid?” ajaknya yang berdiri di depanku.

Hatiku makin tersentuh pada Mas Abra. Penampilannya sama sekali jauh berbeda dengan sifatnya. Ada banyak pelajaran yang dapat ku ambil di hari ini dari Mas Abra. Awal melihat Mas Abra, aku merasa dia orang yang mencurigkan dan brutal.

Walaupun ada yang mengatakan saat bertemu seseorang cara pertama yang mudah dilakukan adalah melihat penampilannya. Seperti contoh, ada perempuan keluar rumah memakai pakaian sexy atau hot pants kita langsung menuduh dia wanita murahan apalagi jika dia punya banyak teman pria. Hal ini sudah mejadi kebiasaan kita.

Padahal setiap manusia memiliki cara sisi yang berbeda. Saya merasa seperti orang yang paling buruk di depan Mas Abra. Harusnya saya bersyukur memiliki keluarga yang utuh dan mampu untuk menggapai impian dan cita-cita saya. Mungkin takdir yang telah Tuhan tuliskan untuk Mas Abra dengan saya berbeda.

Dari segi penampilan, Mas Abra sangat mencurigakan. Tetapi, dari sisi kepribadian sangat mengagumkan. Mas Abra mengajarkan saya untuk menghargai Ibu selagi ia ada dan jangan menilai seseorang dari penampilan luar.

By: Elsa Dwitri

 

Tinggalkan komentar