Cerita Cinta Romantis ” MAWAR MERAH MUDA”

0 11

Hujan rintik-rintik membasahi tanah yang kering, tandus. Setelah hujan itu usai matahari kembali terang bersama warna-warna kemilau pelangi. Pagi itu merupakan pagi yang sempurna untuk mengawali setiap kegiatan membosankan. Gadis berkerudung putih itu terus mematut-matut di depan cermin, memastikan bahwa jilbab yang ia kenakan telah rapi. Semangatnya tak pernah hilang walaupun sudah satu tahun ia hanya duduk di kursi roda.

Bukan itu, semangatnya telah hilang saat pertama kali ia sadar bahwa ia mengidap penyakit yang membuat kakinya tak bisa lagi digunakan. Selama satu tahun terakhir ia menyembunyikan kesedihan dan segala putus asa, serta air mata yang selalu menetes setiap harinya. Lulusan terbaik universitas ternama memutuskan untuk menjadi penjaga toko bunga. Alasannya karena ia merasa tenang saat bunga warna-warni nan harum mengelilinginya.

Cerita Cinta Romantis ” MAWAR MERAH MUDA”

“ Kau sudah datang , Tania” Salah seorang penjaga toko bunga membuka toko lalu buru-buru pergi. Sedangkan gadis berkursi roda hanya tersenyum hangat lalu masuk, menata bunga, dan menunggu pembeli.

“ Bunga mawar tujuh bucket” Seorang pemuda terburu-buru. Sudah dua minggu pemuda itu selalu membeli bunga yang sama. Tujuh bucket bunga mawar, empat bucket mawar putih, dan tiga lainnya bunga warna merah. Pemuda itu selalu bersikap dingin tidak seperti pembeli lainnya.

“ Tunggu sebentar” Begitupun dengan Tania. Selama dua minggu jawaban yang diucapkan selalu sama. Kursi rodanya perlahan menuju sebuah rak di sudut ruangan yang berisi bermacam-macam bunga mawar. Mengambil tujuh bucket bunga sesuai pesanan. Memberikannya. Pemuda itu lalu membayar dan kembali pergi terburu-buru.

“ Berhenti” Tahan Tania ragu.
“ Kau mendapat bonus satu bucket mawar, karena….”
“ Untukmu, bonus mawar itu selalu untukmu”. Pemuda itu tersenyum untuk pertama kalinya. Membuat jantung Tania berdetak begitu kencang, genggaman satu bucket mawar merah muda di tangannya semakin erat. Sedangkan pemuda itu telah pergi dengan mobil putih miliknya.
“ Ilham….” Itulah kata-kat yang keluar dari mulut Tania.

Hari-hari berikutnya masih tetap sama. Pemuda itu membeli bunga mawar dengan jumlah dan warna yang sama pula. Tania terus mengumpulkan bonus-bonus mawar merah muda. Namun pemuda itu tak lagi tersenyum seperti terakhir kali, saat mengatakan mawar itu untuknya.

“ Tania lihatlah…” Seorang anak kecil menunjukkan sesuatu.
“ Ilham aku tak suka mawar merah muda. Bunga mawar itu lebih indah jika warnanya merah atau putih. Indah sekali”.
“ Kau…. jahat Tania. Aku akan selalu memberikan mawar merah muda padamu agar kau menyukainya”.
“ Terserah”. Gadis kecil yang dipanggil Tania langsung lari meninggalkan temannya.
“ Tania Tania ….” Suara anak kecil di depan rumah.
“ Aku tidak mau menemuimu Ilham, aku tidak mau mawar merah muda itu” Jawab gadis kecil dari balik pintu.
“ Tania aku mohon keluarlah!”
“ Tidak mau Ilham, tidak mau…”
“ Baiklah aku pergi” Anak kecil itu menyerah.

Itulah kenangan terakhir yang sempat Tania sesali ia tak menemui sahabat kecilnya yang ternyata datang untuk berpamitan. Kenangan itu kembali terputar dalam memorinya melihat kedatangan pemuda yang selalu membeli mawar 7 bucket. Mawar bonus itu sudah terkumpul sebanyak 21 bucket. Sudah 1 bulan pula pemuda itu tak datang untuk membeli bunga mawar seperti biasanya, dan 1 bulan itulah Tania tetap menyiapkan pesanan seperti biasa. Saat itulah perasaannya terhadap mawar merah muda telah berubah, ia mulai menyukai mawar merah muda telah berubah, ia mulai menyukai mawar merah muda, dan terus mengenang sahabat kecilnya. Bunga mawar merah muda yang sebelumnya menumpuk dan berserakan di belakang meja kasir. Ia tata rapi menyiapkan rak khusus. Rak untuk mawar merah muda.

“ Kau berhasil Ilham. Aku menyukainya” Gumam Tania, mengecup bungs terakhir yang akan ia taruh dalam rak.
“ Permisi….” Suara perempuan nyaring terdengar, membangunkan Tania dari lamunannya.
“ Silvi” Jawab Tania lirih.
“ Tania, Ilham telah kembali. Ia telah kembali, ia berbicara padaku lewat telpon. Kau adalah orang pertama yang ingin ia temui”. Jelas Silvi panjang lebar.
“ Bahkan kalian saling menelfon”. Sahut Tania lebih lirih.
“ Apa.. ? kau sudah bertemu dengannya?”
“ Mungkin sudah, mungkin belum juga”.
“ Jawabanmu aneh, Tania”. Tiba-tiba telpon Silvi berdering.
“ Aku akan jemput kau besok jam 7 disini”. Silvi terburu-buru meninggalkan toko bunga. Membuat Tania bingung.

Keesokan harinya Tania telah siap menunggu Silvi dan perkiraannya pun tepat, Silvi telat 1 jam 20 menit. Mereka buru-buru berangkat ke suatu tempat.

“ Kau boleh masuk ke tempat itu setelah aku pergi. Oke?” Tania hanya mengangguk menanggapi perintah Silvi.
“ Selamat ulang tahun Tani, selamat”. Itulah kata-kata yang Silvi ucapkan saat meninggalkan Tania.
Perlahan Tania membuka pintu bangunan, dan…. Bangunan itu berisi bungan mawar putih dan mawar merah, dengan lampu-lampu indah di sudu-sudut ruangan di tengah ruangan terdapat 7 bucket mawar merah, dan putih. Persis, 4 bucket bunga mawar putih dan 3 bucket bunga mawar merah, dari atap ruangan menjuntai pita besar bertuliskan.

“ Selamat ulang tahun Tania”. Saat ia bergerak maju bersama kursi rodanya ia mendapati amplop merah dengan corak putih berbentuk mawar. Amplop indah itu berisi surat dari seseorang.
“ Assalamualaikum Tania ….
Maafkan aku memberikan sesuatu yang tidak kau suka di awal waktu. Maafkan aku tidak bisa mengatakan saat pertama kali kita bertemu bahwa aku adalah Ilham. Kau takkan lupa hari ini kan? Tapi kau lupa, bahwa hari ini tanggal 21 september, hari lahirmu, hari ulang tahunmu, dan hari dimana aku kembali.

“ Kau benar Ilham. Aku melupakannya”. Sela Tania sampai di tengah ia membaca surat.
Maafkan aku sydah 1 bulan tak mengunjunginmu dan saat aku kembali pergi nanti. Aku harap kau telah menyukai mawar merah muda, dan selalu mengingat aku saat kau melihatnya. Sadarlah Tania, bersemangatlah, dan jika hari ini kau telah menyukai mawar merah muda. Aku berhasil. aku harap kau mau menemuiku, sekarang aku berad di rumah sakit dekat gedung yang sedang kau datangi. Selama 1 bulan aku sedikit pilek, 1 bulan itu aku dirawat. Aku menyayangimu Tania. Datanglah……
Wassalamualaikum”.

Tania memutuskan untuk menemui Ilham, telponnya bergetar, pertanda sms masuk, itu adalah sms dari Silvi.

“ Saat ia bertemu denganmu, ia sudah sakit Tania, ia selalu terburu-buru untuk kembali ke rumah sakit. 1 bulan ia menyiapkan semua untuk ulang tahunmu. Ia menyukaimu sejak 14 tahun yang lalu, saat kalian berumur 9 tahun. Kau pernah bilangkan ulang tahun yang ke-23 adalah yang terindah. Ia kembali untukmu. Ia berkata sedikit pilek. Jangan bodoh Tania, sudah 2 tahun terakhir ia mengidap tumor ganas. Maafkan aku menyembunyikan semua darimu”.

Tangisan Tania semakin kuat ia mencoba menggerakkan kakinya, perlahan… ia tahan sakit saat kaki kanannya digerakkan,berjalan terseok, sedikit berlari, terjatuh, ia usahakan ia akan sampai. 1 tahun terakhir saat ia mungkin bisa berjalan, ia lakukan sekarang untuk sahabat yang ia cintai, Ilham.
Tania pun sampai, bertanya dimana ruangan Ilham. Sampai di depan ruangan Ilham ia mengelap air matanya, menyiapkan senyum terindah untuk Ilham. Membuka pintu yang ia dapatkan adalah tubuh Ilham yang terbaring lemah, pejaman matanya damai. Ia telah pergi untuk selamanya. Air mata Tania kembali tak terbendung. Begitupun dengan ibu Ilham yang berdiri di samping ranjang, lalu memeluk Tania sembari berbisik.

“ Ia selalu menunggumu Tania, selalu. Saat di depan pintu rumahmu sampai sekarang, saat ia sadar kau begitu penting untuknya. Saat ia sadar kau sepenting masa depannya, yang ingin ia rayakan di waktu yang lebih lama. Ia mencintaimu Tania. Cinta yang lebih panjang dari hidupnya. Cinta yang tertanam dalam jiwanya. Cinta yang selalu ingin ia wujudkan. Cinta yang selalu ia genggam erat-erat. Ingatlah Tania kau adalah perayaan dari masa depannya yang tertunda”.

Karya; Annisa Nur Fitriyani

Bersambung. . . . . . .

Leave A Reply

Your email address will not be published.

91 − = 84