Cerita cinta “kau puisi”

Cerita cinta- Hujan lembu tak henti-hentinya jatuh membasahi bumi. Meninggalkan genangan di mana-mana. Cuaca yang berani membuat siswa betah di bangkunya masing-masing. Menempelkan paksa di atas meja sambil memejamkan mata. Hawa yang sejuk seperti ini sangat cocok untuk tidur di atas kasur atau menikmati segelas cokelat panas. Sayangnya, sekolah tidak mengizinkan lebih awal. Mungkin harus menunggu serangan makhluk luar angkasa yang akan membuat kami pulang. Udara yang dingin membuatku tidak dapat membuat belajarku. Bahkan rumus sesederhana H2 + O tak bisa ku jawab dengan benar. Otakku hanya memesan nyamanya kasur kamarku yang empuk.

Cerita cinta motivasi

Aku duduk di tepi jendela kelas. Tanpa pemandangan sekolah dari balik kaca. Mataku tertuju pada lapangan basket yang tergelimikan udara. Kelihatannya pertandingan hari ini akan di undur. Saya ingin menonton dia yang menyorot dari permukaan dengan rambut dan pakaian seragam cheerleader. Suara sorak penyemangat yang membuat hatiku berguncang. Seketika aku melamun tentangnya. Ku ambil buku khusus puisi buatanku di meja tulis. Lembar demi babak ku buka. Sebuah lembaran kosong ku ukur dengan tinta hitam.

Saat Hujan
Aku sedang memikirkanmu
Seketika aku ingin menggabungkan sesuatu
Perkembangan hari ini aku tak bisa melihatmu
Sorakmu, tawamu dan senyummu
Belakangan ini aku sering merindu
Nazanin, gadis berambut hitam lurus memiliki mata cokelat. Cinta dalam hatiku yang sudah ku sembunyikan 3 tahun lamanya. Aku memilih sejak kelas 3 SMP. Saat itu aku ikut pelajaran antar kelas di sekolah dalam acara classmeeting. Dia adalah panitia dalam acara tersebut. Mulai sejak aku sedang untuk mencari dan mencapai saat aku menjadi pengagum rahasianya. Barangkali Anda dan saya lelaki penakut. Kenyataannya aku tidak seperti itu, dia adalah primadona di sekolah pada waktu itu dan sampai sekarang juga tetap seperti itu. Aku tidak percaya diri untuk mengutarakan perasaanku. Banyak lelaki yang lebih baik dariku mengantri di barisan untuk cerdas. Aku akan sebutkan satu saja lelaki yang memperhatikan Naza. Dia ketua klub matematika. Hei! Bagaimana denganku? Hanya bisa merangkai kata.

Bel panjang berdering. Semua siswa sibuk merapikan buku-buku lalu memasukan ke dalam tas. Berlalu menuju pintu kelas. satu persatu dari mereka berangkat kelas. Hanya aku yang tersisa. Aku masih betah di bangkuku. Memandangi lahan keranjang yang masih tergenang. Hujan tak lagi menambah volume genangan. Air yang jatuh tidak sederas sebelumnya. Hanya jatuh rintikan saja. Harapanku agar genangan itu segera mengering. Tapi, matahari tak hadir siang ini. aku simpan buku-bukuku ke dalam tas, ku kenakan jaket dan derek luang kelas.

Aku menyelusatakan sekolah. Tak biasanya sekolah sunyi seperti ini. Seperti hari-hari sebelumnya sekolah sangat di penuhi siswa dan siswi yang tak kalah dengan kejadian rumah. Mencari hiburan di sekolah dengan teman-teman sebaya. Bermain gitar di bawah pohon., Baca buku di taman baca, bernyanyi di bangku taman atau nikmati wifi sekolah. Efek dariester membuat segalanya berubah. Langkahku terhenti saat sedang berada di depan pos satpam. Agaknya dia sedang menunggu seseorang.

“Hei!” Sapaku yang sudah berdiri di sampingnya. Aku tak ingin mengangkat pada kalian bagaimana keadaan hatiku sekarang.
Dia tersenyum “Hei …”
“Belum pulang?” Tanyaku
“Nunggu, Mama jemput. Mau bareng? “
Kebetulan rumah kami searah “Engga, ah! Entar ngerepotin … ”
“Santai aja kali. Kita udah temenan lama. ”

Duduk di sampingnya seperti ini adalah hal pertama bagiku. Aku sedang tidak bermimpi sekarang dan aku tidak bermimpi aneh-aneh malam malam. Jangan tanya aku senang atau tidak. Bayangkan saja, Anda akan menemukan wanita yang Anda suka. Sudah pasti kalian akan menemukan jawabannya. Aku sangat senang.

“Temennya Naza, ya?” Tanya wanita paruh baya yang sedang cair setir.
“Iya, Tante.”
“Temen SMP Naza juga, Maa …”
“Oh, yang pernah ikut lomba puisi itu bukan? Yang kamu bilang puisinya bagus? ”
Demi apa dia mengatakan itu tentangku?
“Ih, si Mama. Malu ada orangnya di sini … ”
“Gak apa-apa dong? Iyakan Nak, Gibran? “
Bahkan Mama Naza tau namaku. “Iya, Tante.” Aku tersenyum.
“Bulan depan, Naza ulang tahun. Kamu datang ya? ”

Aku selalu siap di layar ulang tahunan. Membawakannya dua kado. Salah satu dari kado itu aku mengaku sebagai penggemar rahasianya. Setiap tahun aku memberikan puisi dan cokelat untuknya. Begitulah caraku mengutarakan perasaanku.

***

Susunan huruf kata “HAPPY BIRTHDAY” berbagi di teras rumah. Nuansa biru langit menghiasi teras rumah yang menandakan bahwa biru adalah warna kesukaannya. Aku duduk bersama teman-teman SMP sekaligus reunian mini. Sudah lama kami tidak saling jumpa karena kesibukkan menjelang ujian nasional. Sibuk les privat dan belajar giat agar lulus masuk universitas yang diinginkan. Aku memang terkenal pendiam. Bahkan, aku mencintai Naza diam-diam.

Acara sudah dimulai. Kami berkumpul mengitari Naza dan kedua orangtuanya. Ada kue yang berbentuk angka 17. Ramainya warna-warni lilin mempercantik kue dengan cahaya lilin yang bersinar. Kami bersama-sama menyanyikan lagu ritual ulang tahun bersama-sama sambil tepuk tangan. Naza Nyeri lilin berisi lagu sudah di penghujung. Semua bertepuk tangan saat lilin sudah padam.

Aku meninggalkan kerumunan itu menuju ke tempat kado. Meletakkan kedua kado yang di permukaan bertuliskan namaku dan bertuliskan penggemar rahasia. Kuletakkan di tempat terpisah agar tidak mencurigakan. Sebelum pergi, aku melihat senyumnya yang bahagia, aku ingi meninjaunya malam ini.

***

Semua siswa pancasila berkumpul di aula sekolah. Ada perasaan cemas menganggu mereka. Keputusan kelulusan akan di umumkan hari ini. Terdengar dari mereka yang menginginkan masuk universitas favorit. Aku belum memutuskan harus kemana langkahku selanjutnya. Melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi bukan daftar utama dalam rencana hidupku.

Kepala sekolaharus ruangan. Semua terdiam dan fokus ketuk kata demi kata yang keluar dari mulut kepala sekolah. Belum lagi terucap kata kelulusan, sebagian wanita sudah ada yang menangis. Ku sebut ini menangis berjamaah. Mereka tertunduk, aku sangat paham apa yang mereka rasakan. Ketakutan tidak akan lulus menjadi alasan mengapa mereka menangis. Tapi tidak dengan Naza, dia tetap tersenyum dengan tenang. Wajar, dia anak pintar. Sudah pasti dia akan lulus. Akhirnya, semua siswa dan siswi angkatan tahun 2012 dinyatakan lulus. Syukurlah!

***
Aku membuka kado dari sesorang yang menyebut dirinya penggemar rahasia. Kotak-kotak dua cokelat dan selembar kertas bertuliskan puisi
Selamat Ulang Tahun
Semakin bertambah
Hari-hari yang kau lalui pasti berharga
Penuh suka dan duka
Kini kau semakin dewasa
17 tahun yang lalu kau masih balita
Belum memahami makna dunia
Selamat ulang tahun, Naza
Mudah-suka kau sejahtera
Murah rezekinya

Doaku wanita pujaanku, Nazanin

Aku terdiam menatap selembar kertas biru yang berisi kata jadi manis. Sudah membuatku menangis haru. Selama tiga tahun aku menerima surat yang manis di hari ulang tahunku. Aku masih menyimpan surat lainnya di sebuah kotak khusus. Suatu saat aku kan mencari siapa yang menyukaiku dan mengirim aku puisi.

***

Ku putuskan aku akan melanjutkan pendidikanku di Belanda. Mengambi jurusan sastra inggris di Jerman. Universitas Freiburg adalah kampus yang menerimaku. Aku akan berangkat hari ini untuk mengurus mayat. Akan banyak yang bisa di sini dan hany satu yang ku bawa. Buku tahunan SMA ku akan menjadi pengobat saat aku merindukan Naza. Aku akan kembali 5 tahun lagi.

Sangat berat rasanya, tapi ini sangat mahal sekali setelah aku befikir sehari samalam. Aku merahasiakan kepergianku ke Jerman dari teman-temanku. Aku tak ingin Naza sampai tau aku. Sebulan saya bisa melewati puisiku dari Jerman ke Indonesia. Ku letakkan ponselku di atas meja dengan layar yang masih menyala. Koper yang berada di sisi tempat tidurku ku raih lalu ku tarik dengan perlahan Lama kamarku.

Tinggalkan komentar