mendidik anak menurut islam

Cara Jitu Mendidik Anak Menurut Islam

cara mendidik anak menurut islam-Anak yang memiliki budi pekerti yang luhur, akhlak yang baik dan bertakwa tentu menjadi idaman setiap orang tua. Tentu orang tua akan melakukan apapun demi kebaikkan anaknya. Salah satunya adalah dengan memberikan pendidikan agama yang ekstra. Orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah yang berlandaskan agama islam seperti, Raudhatul Athfal, Madrasah Ibthidaiyah, Madrasah Diniyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah atau pondok pesantren.

Ada beberapa orang tua yang sengaja menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut dengan alasan orang tua tidak memiliki pengetahuan agama yang luas untuk diajarkan kepada anaknya. Pilihannya adalah meletakkan anak di sekolah berlandaskan islam untuk membentuk karakter anak sesuai agama islam itu sendiri. Bahkan ada orangtua memburu buku yang mengajarkan tentang pendidikan anak. Hal tersebut merupakan tanggung jawab orang tua terhadap tumbuh kembang putera dan puterinya. Anak yang sudah mendapat didikan yang baik akan menunjukkan bakti kepada orang tuanya, mengangkat derajat keluarganya, member perhatian penuh dan merawat orangtuanya dengan kasih sayang.

Cara Mendidik Anak Menurut Islam

Rasulullah SAW merupakan tauladan bagi orang tua dalam mendidik anak dengan baik. Rasullullah menjelaskan dalam Hadisnya yaitu:

“Jika anak Adam meninggal dunia, terputuslah segala amalnya kecuali tiga perkara; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya” (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ahmad).

Selain dekat dengan Allah, ada hal utama dalam mendidik anak yang orang tua harus miliki yaitu ilmu. Supaya usaha orang tua untuk mendidik anak dengan baik, penulis akan menjelaskan beberapa cara yang harus orang tua tempuh untuk mendidik anak:

1. Mengajarkan Ilmu Tauhid

Tauhid merupakan konsep ketuhanan, maka dari itu yang pertama orang tua harus lakukan adalah mengenalkan bahwa Allah satu-satunya Tuhan yang harus disembah, bahwa Allah adalah satu (Esa), bahwa Allah adalah pencipta dari segala isi Bumi, bahwa Allah yang berhak mengambil nyawa makhluk hidup. Caranya dengan mengucapkan syahadat secara berulang-ulang sehingga anak mulai taka sing mendengarnya. Lama kelamaan anak akan terus ikut mengucapkannya.
Dijelaskan dari Ibn Abbas, Rasullullah SAW bersabda:

“Bukalah lidah anak-anak kalian pertama kali dengan kalimat “Lailaha-illaallah”. Dan saat mereka hendak meninggal dunia maka bacakanlah, “Lailaha-illallah. Sesungguhnya barangsiapa awal dan akhir pembicaraannya “Lailah-illallah”, kemudian ia hidup selama seribu tahun, maka dosa apa pun, tidak akan ditanyakan kepadanya.” (Sya’bul Iman)

Memori anak akan mudah mengingat apa yang telah mereka dengar. Sering kita melihat anak-anak mudah sekali menghafal lagu-lagu bukan? Hal itu terjadi karena orang tua selalu memutar lagu tersebut. Bagaimana jika diterapkan dengan kalimat syahadat? Anak akan terus mengingat bahwa kalimat syahadat adalah mengesakan Allah.

2. Mengajarkan Doa Harian

Islam mengajarkan untuk memulai sesuatu dengan doa. Setelah mengajarkan ilmu ketuhanan, anak juga perlu diajarkan tentang doa harian. Mengajarkan anak berdoa merupakan cara agar anak mengingat bahwa apa yang dilakukan atas izin Allah dan meminta perlindungan dari Allah. Doa yang biasa diajarkan adalah doa sebelum dan sesudah makan, doa tidur dan bangun tidur, doa masuk kamar mandi dan keluar kamar mandi, doa keluar rumah dan masuk rumah serta doa yang lain sebagainya. Ajarkan pula anak untuk mengucapkan Bismillah bila melakukan aktivitas dan menyudahi aktivitas dengan mengucapkan Alhamdulillah. Jika orang tua membiasakan hal baik sejak dini, maka anak akan terbiasa saat dewasa kelak.

3. Mengajarkan Ilmu Agama

Saat usia anak menginjak balita, sebaiknya orangtua menanamkan nilai agama kepada anaknya. Misalnya mengajaknya sholat bersama, mengajarinya mengaji, atau orang tua bisa menyekolahkan di tempat Taman Pendidikan Qur’an atau madrasah mengaji. Selanjutnya, ajarkan anak sholat, arah kiblat, cara berwudhu dan puasa. Walaupun anak belum baligh, mebiasakan anak untuk melakukan hal tersebut akan menjadi kebiasaan baik saat dewasa kelak. Perintah untuk mengajari solat dijelaskan dalam sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

“Perintahlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka jika enggan melakukannya pada usia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Ahmad)

4. Mengajarkan Berperilaku Sopan Kepada Orang Tua

Rasulullah mengajarkan anak-anaknya untuk berperilaku yang baik kepada orang tua. Sebab Allah telah memerintahkan kepada umatnya untuk melakukan hal tersebut. Allah memerintahkan anak harus sopan kepada orangtuanya, bertutur kata yang lembut, tidak membantah perintahnya.

Rasulullah telah bersabda Diriwayatkan oleh Aisyah RA: “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih mirip dengan Nabi SAW dalam cara bicara maupun duduk daripada Fathimah.” “Aisyah berkata lagi, “Biasanya apabila Nabi SAW melihat Fathimah datang, beliau mengucapkan selamat datang padanya, lalu berdiri menyambutnya dan menciumnya, kemudian beliau menggamit tangannya hingga beliau dudukkan Fathimah di tempat duduk beliau. Begitu pula apabila Nabi SAW datang padanya, maka Fathimah mengucapkan selamat datang pada beliau, kemudian berdiri menyambutnya, menggandeng tangannya, lalu menciumnya.” (Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no.725)

5. Mengajarkan Cara Berpakaian Islami

Bagi kaum hawa, menutup aurat sudahlah ketentuan dalam islam. Mengenalkan kapada anak tentang bagian-bagian yang harus ditutupi adalah hal yang utama sebelum membiasakan anak berpakaian islami. Ajarkan anak terlebih dahulu untuk menutup kepalanya dengan berhijab. Jelaskan apa yang terjadi kepadanya jika menunjukkan auratnya ke selain anggota keluaragnya. Allah berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 59

“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh merek. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab:59)

6. Mengajarkan Ganjaran Terhadap Tingkah Laku Agar Tidak Sembarangan Bertindak

Dalam surat Luqman ayat 16 “(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”.

Dalam ayat ini terdapat konsep keimanan pada hari akhir. Dari konsep tersebut butuh dua pemahaman untuk menjalankannya dengan baik. Pertama adalah Ihsan, yaitu sikap muraqabatullah di mana manusia itu berada, maka Allah akan mengetahui apa yang dia lakukan maupun niat yang ada dalam hatinya. Kedua adalah tanggung jawab Ilahiyah, di mana seseorang harus bertanggung jawab akan tindakannya selama di dunia di hadapan Allah kelak.

Dari yang telah penulis paparkan, Rasulullah adalah teladan bagi orang tua dalam mengasuh anak. Tidak hanya itu Rasulullah juga menjadi teladan bagi setiap umatnya. Orang tua juga dapat mengikuti jejak Luqman seorang hamba Allah yang namanya dijadikan menjadi nama surah di dalam Al-quran karena sifatnya yang amat bujak dan takwa yang dimilikinya serta caranyya mendidik anak agar menjadi muslim yang setia kepada Allah. Luqman mendidik anak-anaknya mengutamakan pendidikan aqidah di mana itulah yang akan menjadi penyelamat anak-anaknya kelak.

Ada 10 wasiat penting yang Luqman berikan kepada anaknya

1) Wahai Anakku yang kusayangi. Ketahuilah sesungguhnya dunia ini bagaikan lautan yang dalam, banyak manusia yang karam di dalamnya. Bila engkau ingin selamat, layarilah lautan itu dengan sampan yang bernama takwa, isinya iman dan layarnya adalah tawakkal kepada Allah.

2) Wahai anakku yang kusayangi. Sesungguhnya orang-orang yang selalu menyediakan dirinya untuk menerima nasihat, maka dirinya akan mendapat perjuangan dari Allah. Orang yang insyaf dan sadar telah menerima kemuliaaan dari Allah.

3) Wahai anakku yang kusayangi. Orang yang merasa dirinya hina dan rendah diri dalam beribadah dan taat kepada Allah, maka dia bertawadhu’ Dia akan lebih taat kepada Allah dan selalu berusaha menghindari maksiat

4) Wahai anakku yang kusayangi. Seandainya orang tuamu marah kepadamu(karena kesalahanmu) maka marahnya orang tuamu itu adalah bagaikan pupuk bagi tanaman.

5) Wahai anakku yang kusayangi. Jauhkanlah dirimu dari berhutang karena sesungguhnya berhutang itu bisa menjadikan dirimu hina di waktu siang dan gelisah di waktu malam.

6) Wahai anakku yang kusayangi. Selalu berharap kepada Allah tentang segala sesuatu yang menyebabkan dirimu tidak durhaka kepada Allah. Takutlah kepadaNya dengan sebenar takut, tentulah engkau akan terlepas sifat putus asa dari rahmat Allah Ta’ala.

7) Wahai anakku yang kusayangi. Seorang pendusta akan lekas hilang air mukanya karena tidak dipercaya orang dan seseorang yang telah bejat akhlaknya akan senantiasa melamunkan hal-hal yang tidak benar, ketahuilah memindahkan batu besar dari tempatnya semula itu lebih mudah dari mengembalikan nama baik atau kehormatan.

8) Wahai anakku yang kusayangi. Engkau telah merasakan betapa berat memindahkan batu itu dan besi yang amat berat tetapi akan berat lagi dari semua itu, adalah apabila kamu mempunyai tetangga yang jahat.

9) Wahai anakku yang kusayangi. Janganlah sekali-kali engkau mengirimkan seorang yang bodoh menjadi utusan. Jika tidak ada orang yang cerdas dan pintar, sebaiknya dirimu sendiri yang menjadi utusan.

10) Wahai anakku yang kusayangi. Makanlah makanan bersama orang-orang yang bertakwa dan musyawarahkanlah urusanmu dengan para alim ulama dengan cara memohon nasihat kepadanya.

Orang tua dapat menerapkan apa yang dilakukan Luqman untuk mendidik anak. Apa yang diajarkan Luqman kepada anaknya bisa dibaca dalam Al-quraan. Semoga apa yang penulis sampaikan dapat menjadi manfaat bagi setiap pembaca yang mengunjungi artikel ini.

About the Author: khavidin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *