Akibat Dari Kenakalan Remaja Berdampak Dalam Pendidikan

Kali ini penulis akan membahas masalah pendidikan yang terjadi di Indonesia. Salah satunya adalah pernikahan dini dan melahirkan pada usia muda yang menghambat proses pendidikan mereka. Saat menjalani Ujian Nasional, mereka tidak bisa mengikuti Ujian Nasional sampai selesai dengan alasan sudah menikah atau akan melahirkan. Dilansir dari berita yang sudah diposting pada tahun 2012.

Akibat Dari Kenakalan Remaja Berdampak Dalam Pendidikan

“Dari 3.653 siswa SMP se-kutai timur, sebanyak enam siswi tidak bisa mengikuti Ujian Nasional (UN) sampai selesai. Alasan mereka bermacam-macam, ada yang mau menikah, sampai karena akan melahirkan. Saat pelaksanaan UN, mereka tidak masuk, ada mundur dan menikah bahkan ada yang dikabarkan akan melahirkan “Ujar kepala Dinas Pendidikan Kutai Timur, Imam Hidayat seperti dilangsir antara, kamis (26/4)”. Imam Hidayat yang didampingi kasih kurikulum, Susilo, dan kabit pendidikan dasar Daud menjelaskan, pihaknya sangat menyayangkan siswi yang terburu-buru menikah muda.

“saya menyayangkan juga kenapa mereka lebih memilih menikah muda mengingat usia mereka sangat mudah dan masa depannya masih panjang”, kata Imam lagi. Sebelumnya mereka sudah terdaftar sebagai peserta UN, namun mereka tidak ikut UN. Pihak sekolah pun tidak bisa berbuat apa-apa, karena sudah terlanjur terjadi. Menikah mungkin merupakan pilihan dan keputusan terbaik keluarga dan para murid tersebut. Secara keseluruhan, pelaksanaan di kutai timur, dari hari pertama hingga selesai berjalan lancar dan aman.”

Yang terjadi di Indonesia saat ini adalah generasi muda lebih tertarik akan adat kebiasaan negeri lain yang sebenarnya tidak sesuai dengan adat istiadat dan etika bangsa kita. Mereka menganggap lebih keren dan modern, baik itu gaya hidup maupun tingkah lakunya. Karena hal itulah, timbul pergaulan bebas di kalangan remaja (pelajar) dan mempengaruhi pikiran serta tingkah laku generasi muda. Merosotnya moral pada generasi muda membuat Indonesia akan semakin terpuruk dan memiliki masa depan yang suram.

Wajar saja terjadi zina, pertemuan yang rutin menghasilkan kesempatan yang muncul secara acak atau lewat kesempatan yang terencana. Setan pasti akan selalu menyertai dua insan yang bukan mahram saat berdua-duaan dan pacaran memang enaknya Cuma berdua. Ditambah lagi budaya barat yang di impor lewat sinetron, film, dan media-media lainnya sudah menjadi kiblat bagi remaja masa kini. Pesta-pesta di rumah ala Amerika sampai wisuda keperawanan ala Jepang menjadi idaman remaja. data dari BKKBN menunjukkan pada 2010 di Jabodetabek, remaja yang hilang keperawanannya mencapai 51 %, Surabaya mencapai 54 %, Medan 52 %, Bandung 47 %, dan Yogyakarta mencapai 37 %. Kemudian Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendapatkan hasil yang mencengangkan setelah melakukan penelitian di 12 kota besar di Indonesia pada tahun 2007, 92 % pelajar itu pernah melakukan kissing, petting, dan oral seks. 62 % pernah melakukan hubungan intim, dan 22,07 % siswi SMA pernah melakukan aborsi. Dan menariknya lagi usia mulai pacaran adalah mulai 12 tahun.

Dari beberapa fenomena yang telah dipaparkan di atas, jelas bahwa kondisi pelajar di Indonesia saat ini terlihat bahwa semakin bobroknya etika, moral, dan akhlak bangsa Indonesia. Selain itu, dapat pula kita ketahui bahwa terdapat beberapa faktor dari adanya globalisasi, antara lain adalah:

1. Masuknya pola pergaulan budaya asing atau budaya barat, seperti anak-anak sekolah yang bermain sampai malam (misalnya ke café) tanpa sepengetahuan orang tuanya.

2. Perkembangan teknologi yang tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas budi pekerti pelajar. Padahal perkembangan teknologi memang sangat dibutuhkan bangsa ini untuk dapat terus bersaing di era globalisasi

3. Derasnya arus media komunikasi yang masuk ke Indonesia. Bisa dicontohkan seperti handphone yang dilengkapi dengan fitur-fitur yang canggih seperti kamera, video, internet, dan juga yang sedang menjadi trend para pelajar saat ini adalah BBM, line, dan lain sebagainya.

4. Cara berpakaian anak muda dalam hal ini atau pelajar yang sekarang tidak lagi menjunjung tinggi nilai kesopanan, kebanyakan mereka berpakaian secara minim dan ketat. Dapat dicontohkan saja seragam sekolah yang mereka pakai ketika di sekolah. Pakaian seragam yang harusnya formal, kadang dibuat “neko-neko”, seperti baju yang dibuat ketat, dan rok yang dibuat lebih pendek.

Dari faktor diatas dapat kita ketahui bahwa kebudayaan barat mudah sekali keluar masuk ke Indonesia secara bebas. Sehingga menyebabkan kebudayaan yang ada di Indonesia semakin luntur, dan nilai-nilai Pancasila tidak lagi dijadikan sebagai pedoman hidup generasi muda Indonesia. Krisis moral terjadi juga karena nilai-nilai Pancasila sekarang ini mulai luntur dan tidak lagi diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Pancasila yang seharusnya sebagai pedoman hidup dan falsafah bangsa kini hanya sebagai semboyan belaka. Dalam bertindak, kebanyakan orang sudah tidak mengindahkan asas Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan. Jati diri bangsa sekarang ini telah luntur, sehingga timbul perilaku amoral yang merugikan orang lain dan membuat semakin terpuruknya negeri ini.

Indonesia pada saat ini telah dihadapkan pada permasalah krisis moralitas. Permasalahan ini sudah menjalar sampai pada semua aspek kehidupan. Beberapa krisis moral yang dapat kita lihat diantaranya adalah dari sistem pendidikan kita, ketidakpedulian dengan sesama, mulai hilangnya etika dan akhlak, kenakalan-kenakalan remaja, tayangan-tayangan di televisi yang kurang mendidik, perilaku para pejabat kita yang tidak amanah dan masih banyak lagi krisis moralitas yang lain.

Kebiasaan anak jaman sekarang yang biasa kita lihat adalah terjadinya tawuran antar sekolah, konflik antar anak sekolah yang mengakibatkan perkelahian dan pembunuhan, kenakalan remaja yang berlebihan, siswa-siswi yang dianggap tidak sopan, tidak bertanggung jawab terhadap tindakannya, juga banyak siswa sekolah (pelajar) yang menjadi korban narkoba. Bahkan kebiasaan tawuran pun sekarang menjadi budaya, tak jarang dari mereka melakukan tawuran hanya untuk membuat sensasi, onar, dan kisruh tanpa alasan dan masalah yang jelas.

Kenakalan remaja seperti free sex, pergaulan bebas, dan pemakaian narkoba sudah menjalar hingga ke pelosok desa. Belum lagi, maraknya video perzinaaan yang semakin mudah diakses dan didapatkan. Dengan hanya meroggoh uang yang tak seberapa, orang dapat mengunduhnya dari situs-situs di internet. Mau menjadi apa bangsa ini apabila para generasi mudanya saja seperti itu. Sehingga sangat jelas sekali bahwa arus globalisasi dari teknologi yang semakin canggih tidak disaring dengan baik menimbulkan dampak yang sangat negatif bagi para pelajar, karena mudahnya informasi yang mereka akses.

Tidak hanya itu, tayangan-tayangan di televisi sekarang ini banyak yang tidak mendidik. Contohnya sinetron, kebanyakan sinetron ditonton oleh para pelajar (remaja). Sinetron menyuguhkan cerita yang berbau percintaan, pertengkaran, penganiayaan, pergaulan bebas, mode trend gaul masa kini dan lain-lain. Dan parahnya hal tersebut ditiru oleh para remaja atau pelajar, seperti memakai rok diatas lutut ke sekolah, pakaian yang ketat, merokok, dan lainnya. Budaya kebaratan semakin membawa dampak buruk bagi para remaja khususnya pelajar, dimana akibatnya adalah mereka menjadi bersikap acuh tak acuh dengan perkembangan bangsa ini.Kebanyakan dari masyarakat Indonesia mempercayakan pendidikan sebagai salah satu lembaga yang mampu mencetak manusia atau generasi muda yang bermoral, beretika, dan berakhlak. Selain itu, Indonesia juga mengaku sebagai Negara yang beragama.

Namun yang menjadi pertanyaan saat ini adalah mengapa pada saat ini banyak orang terutama para pelajar yang tidak memiliki moral. Maka terlihat bahwa bangsa ini semakin terjangkiti virus globalisasi yang membawa dampak buruk bagi moral masyarakat Indonesia, khususnya pelajar yang menimbulkan suatu opini apakah yang salah dari sistem pendidikan Indonesia hingga krisis moral terjadi secara berkepanjangan.
Dapat kita ketahui bahwa para pelajar memiliki potensi yang besar, tantangan dan juga tanggung jawab di jamannya. Tantangan tersebut adalah menjaga generasinya tetap baik dan lebih baik dari yang dulu. Pelajar sebagai agent of change dituntut untuk mengambil peran didalam tantangan yang berupa perubahan sosial. Maka dari itu diperlukan strategi penanaman nilai etika, moral, dan akhlak di kalangan pelajar.

Yang paling penting adalah penanaman nilai-nilai agama. Penanaman nilai agama sangatlah penting pada tiap masing-masing individu. Karena yang terlihat pada saat ini salah satu faktor buruknya moral generasi muda adalah longgarnya pegangan terhadap agama. Sehingga menyebabkan keyakinan beragama mulai terdesak, kepercayaan kepada Tuhan tinggal simbol, larangan-larangan dan perintah-perintah Tuhan tidak diindahkan lagi. Dengan longgarnya pegangan seseorang pada ajaran agama, maka hilanglah kekuatan pengontrol yang ada didalam dirinya. Sehingga yang pertama dilakukan adalah penanaman nilai agama, sampai nilai-nilai itu melekat pada diri seorang individu agar tau mana perintah dan mana larangan.

Sebenarnya tidak semua kebudayaan asing itu berdampak negatif contohnya media internet, selayaknya pelajar yang mempunyai pandangan hidup yang baik akan menggunakan media itu untuk kebaikan seperti membantunya mengerjakan tugas-tugas akan tetapi pelajar sekarang ini malah menggunakan media itu untuk hal-hal yang merusak moral mereka dan dapat merubah paandangan hidup meerka menjadi buruk. maka daripada itu kebudayaan asing pun masuk ke Indonesia menjadi lebih banyak dampak negatif nya di banding dampak positifnya. Bayangkan siswa SMP saja sudah sering melakukan hubungan seksual dan siswa SMA sudah banyak yang melahirkan setiap tahunnya, mereka tidak lagi mengkhawatirkan masa depannya yang suram di karenakan itu.

Hancurnya tingkah laku di kalangan remaja masa kini termasuk yang berada di Indonesia sudah jelas dan mutlak dikarenakan budaya barat cukup sukses mewarisi kebudayaan hidup mereka ke penjuru dunia termasuk Indonesia. Dengan adanya peristiwa ini paradigma masyarakat dan termasuk pandangan agama terkait peristiwa ini sangat mengharukan dimata ummat islam yang menjadi pertentangan dengan gaya hidup seperti ini, Indonesia sebagai mayoritas islam dan sebagai Negara yang mempunyai ciri khas dan karakter dengan gaya hidup yang sederhana menjaga sebuah tradisi yang terhormat turut kecewa bahkan menjadi keresahan bagi masayarakaat maupun pandangan agama.

Terutama islam, agama yang sangat melindungi kehormatan serta kebenaran sesuai Alqur’an dan sunnah. Terkait peristiwa ini islam adalah agama preventif, Allah melarang keras untuk mendekati zina, apalagi melakukannya, maka islam menutup semua jalan untuk menuju perzinaan. selain karena zina merupakaan dosa besar di sisi Allah, islam tidak menyusahkan terkait dengan perbutan ummatnya, di dalam syariat diperbolehkan berinteraksi antara lelaki dan wanita, ketika ia jual beli, belajar mengajar, ibadah semisal haji dan umrah juga diperbolehkan bagi lelaki dan wanita berinteraksi dalam perkara yang diperbolehkann syariat, semisal medis, peradilan, pekerjaan, pendidikan dan segalaa aktivitas syar’i yang memang menuntut adanya interaksi bagi lelaki dan wanita. dalam islam sangat di tegaskan pelarangan perbuatan yang membawa hancurnya nama agama seperti berzina :

Artinya: “ Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk” ( Q.S.Al-Isra’ : 32).

Pendidikan tentunya modal penting bagi remaja untuk mendapatkan masa depan yang cerah. Tetapi, jika dalam proses pendidikannya terjadi kegagalan, maka masa depan yang akan dihadapinya akan suram. Seperti yang sudah penulis bahas pada artikel di atas. Akibat pergaulan yang bebas, mereka para remaja tidak dapat mengikuti Ujian Nasional dan menyelesaikan pendidikannya yanh sudah sesuai dengan program pemerintah. Demikan dari penulis, semoga kaum muda bisa memberi perubahan bagi lingkungan sekitar.

Di tulis oleh elsa dwitri.

Tinggalkan komentar