wanita curhat di sosmed

6 Sebab Wanita Curhat Di Sosmed

Mungkin kata dear diary sudah tidak asing bagi kaum 90-an. Pada masanya, kata dear diary mengungkapkan perasaan hati seseorang baik itu perasaan senang, sedih, menderita dan tentang masalah asmara yang dituliskan di sebuah buku khusus dan tidak bisa diketahui orang lain. Bahkan, ada buku yang menggunakan kunci untuk menggunakannya (Penulis dulu juga punya yang seperti itu hehe). Buku diary menjadi tempat berbagi masalah curahan hati dan menjadi tempat teraman menyimpan sebuah rahasia.

Sekarang, saat teknologi sudah melekat di kehidupan bermasyarakat peran buku diary sudah terbuang. Kaum milenial masa kini lebih cenderung menumpahkan segala keluh kesahnya di media sosial. Padahal media sosial bukan satu-satunya tempat mencurahkan isi hati, keluarga dan teman dekat juga menjadi wadah terpercaya untuk memberi solusi. Jika dibandingkan, wanita lebih suka curhat di media sosial. Sekalipun mengetahui resikonya, wanita tetap melakukannya. Sementara pria, kebanyakan mencari solusi atas masalah yang di hadapi. Pria tidak mengejar kelegaan hati setelah curhat melainkan fokus menyelesaikan masalah. Ada 5 alasan mengapa wanita sering “curhat” di media sosial

6 Sebab Wanita Curhat Di Sosmed

1. Tidak punya teman akrab

Anak-anak kuper atau kurang pergaulan biasanya minim pergaulan dan kurang dalam bersosialisasi di dunia nyata. Biasanya mereka hanya memiliki teman sekolah saja dan tidak begitu akrab. Hidup yang dijalani begitu maya. Kesehariannya hanya berbincang dengan teman-teman di media sosial. Saat hati sedang dirundung masalah dan keresahan, media sosial menjadi solusi untuk mencurahkan isi hatinya.

2. Mencari perhatian

Caper atau cari perhatian. Tujuannya hanya satu yaitu mendapat empati dari orang lain. Dia bisa membuka semua masalahnya di timeline agar orang-orang memberikan tanggapan tentang masalahnya. Rasa kepuasan akan tercapai setelah curhatannya ditanggapi sesuai jawaban yang dia harapkan

3. Pemalu

Orang yang malu untuk mencurahkan isi hatinya kepada siapapun menjadikan media sosial sebagai wadahnya untuk menumpahkan keluh kesahnya. Dia akan merasa nyaman saat orang lain tak melihat wajahnya secara langsung. Biasanya, orang pemalu tidak blak-blakkan menuliskan masalahnya di timeline. Hanya menyinggung sedikit saja tentang masalah yang dihadapinya.

4. Menyindir

Bukan hanya masyarakat biasa yang sering melakukan sindir-menyindir, melainkan artis juga melakukannya. Di instagram mungkin kalian pernah melihatnya, baik itu sindiran terbuka atau sindiran tertutup. Maksud sindiran terbuka ini, si penyindir berterus terang siapa orang yang terkait dengan masalahnya. Sedangkan sindiran tertutup, si penyindir hanya mengungkapkan keresahannya saja dan mencoba menutup rapat siapa orang yang dimaksud.

5. Masalah tidak penting

Kalian pernah melihat teman-teman kamu memposting masalah yang tidak penting? Misalnya baru jatuh dari motor, tupperware hilang, badan kejatuhan cicak, beli bakso digodain abang-bang. Sebenarnya hal itu tidak penting untung diungkapkan. Yaa, pasti mereka punya alasan untuk mengungkapkan hal tersebut

6. Alay

Jangan heran kalau anak alay tidak curhat di media sosial. “Gak update status, gak kekinian.” Mau makan upload, mau mand uplaod, mau pergi upload, setiap aktivitas yang di jalani harus dibarengi dengan postingan. Padahal orang lain juga tidak peduli dengan apa yang ia lakukan. Yang pasti dia merasa ingin diperhatikan.

Dari enam alasan di atas, apakah ada yang pernah kamu alami? Masa kini media sosial berperan sebagai wadah kaum milenial menyalurkan isi kepalanya dan emosi-emosinya. Mencurahkan segala keresahan merupakan jalan positif bagi kesehatan jiwa. Akan tetapi hal tersebut akan menjadi racun untuk dirinya sendiri. Orang-orang yang seharusnya tidak mengetahui kelemahanmu menjadi tau. Setelah orang lain membaca cuitanmu, ekspetasimu mereka akan berempati. Bagaimana jika sebaliknya? Bukan empati yang di dapat melainkan hujatan atau kritikkan. Masalah yang baru dihadapi belum terselesaikan sudah muncul masalah baru. Sudah jatuh tertimpa tangga. Mengungkapkan masalah di media sosial sebenarnya tidak akan membuat kita merasa lebih baik. Keluhan yang pernah ku ungkapkan di dunia maya bisa berujung pada emosi negatif dan di kemudian hari akan merasa bersalah ketika melihat postingan kita terdahulu “Mengapa saya dulu menulis status seperti ini? alay sekali aku.” Bahkan yang lebih fatal lagi adalah jika kita curhat mengenai pekerjaan, akan mendapat teguran dari pihak kantor dan bisa berujung pemecatan.

Masalah yang dihadapi bukan untuk dibagikan ke khalayak umum. Jika kamu tipe orang yang tidak bisa memendam masalah, cukup ceritakan masalahmu kepada teman dekat atau keluarga. Menceritakan segala masalahmu di media sosial bukanlah solusi yangg dapat menyelesaikan semuanya, malah kamu akan mendapat masalah baru yang lebih besar. Jadilah kaum milenial yang smart. Let’s Make a Change.

About the Author: khavidin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *